Setiap kali membicarakan kemajuan sebuah desa, pembicaraan sering berhenti di satu titik saja: siapa kepala desanya. Seolah baik-buruknya sebuah desa hanya ditentukan oleh satu orang di kursi tertinggi.
Padahal, kalau kita amati desa yang benar-benar bergerak maju, hampir selalu ada empat unsur yang bekerja bersamaan, bukan satu unsur yang bekerja sendirian.
Pertama, pemimpin yang ideal. Buku Desa terbitan Kementerian Desa PDTT menyebutkan ciri kepala desa yang baik: mendengar, mengayomi, tidak anti kritik, transparan, dan adil. Ini bukan daftar harapan yang berlebihan, ini kebutuhan dasar. Tanpa lima sifat ini, sebaik apa pun program yang dijalankan, kepercayaan masyarakat akan terus goyah.
Kedua, tokoh yang dewasa. Desa membutuhkan orang-orang yang berani mengkritik, tapi dengan cara yang santun, dan yang senang menasihati tanpa merasa lebih tinggi. Buku yang sama menyebut anggota BPD yang baik harus berani, jujur, objektif, tidak mudah diintervensi, dan memahami aturan. Sifat ini sebetulnya tidak hanya berlaku untuk BPD, tapi untuk siapa pun yang dituakan di desa.
Ketiga, masyarakat yang aktif. Demokrasi desa tidak akan sehat kalau masyarakatnya diam saja. Peduli, aktif, mau hadir dalam musyawarah, menyampaikan kritik secara santun, dan ikut mengawasi pembangunan, itu bukan tugas segelintir orang, tapi tugas bersama.
Keempat, generasi penerus yang terbina. Ini unsur yang paling sering dilupakan karena hasilnya tidak terlihat sekarang, baru terlihat sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Akhlak dan ilmu yang ditanamkan pada anak-anak dan pemuda hari ini, itulah yang akan menentukan siapa yang duduk di empat unsur di atas pada masanya nanti.
Empat pilar ini tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Pemimpin yang adil tanpa masyarakat yang mengawasi akan mudah lengah. Masyarakat yang aktif tanpa tokoh yang mendewasakan akan mudah terpecah oleh emosi sesaat. Dan semua itu akan sia-sia kalau generasi penerusnya tidak disiapkan sejak dini.
Blog ini, Amanah Suara, saya niatkan untuk ikut merawat keempat pilar itu, sedikit demi sedikit, lewat tulisan.
Komentar
Posting Komentar