Khutbah & Kajian · Seri 1
Ada satu sikap yang terasa seperti sedang membela kebenaran, padahal yang sesungguhnya sedang dibela hanyalah golongan sendiri — dan Nabi ﷺ menegaskan, penyerunya bukan bagian dari umat beliau.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأُخُوَّةِ وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالتَّعَصُّبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di mana pun kita berada, dalam keadaan sendiri maupun di tengah keramaian, sebab takwa itulah bekal yang paling berharga menuju perjumpaan dengan-Nya.
Fenomena yang Kita Hadapi
Jamaah yang dirahmati Allah, dalam kehidupan bermasyarakat — baik di lingkup keluarga besar, kelompok pengajian, organisasi, maupun dalam suasana menjelang pemilihan pemimpin, baik pilkades maupun pemilihan yang lain — sering muncul satu penyakit hati yang tampak sepele namun akibatnya sangat merusak: sikap fanatik buta, atau dalam istilah syariat disebut 'ashabiyyah. Yaitu membela pendapat, golongan, atau pilihan kita sendiri secara membabi buta, bukan karena kebenaran yang ada padanya, melainkan semata karena itu adalah milik kita, keluarga kita, atau kelompok kita.
Padahal, jamaah sekalian, Islam mengajarkan sebuah kaidah yang sangat jernih: yang kita bela adalah kebenaran, bukan golongan; dan yang menjadi ukuran kemuliaan seseorang bukanlah kedekatan nasab, suku, atau kelompok, melainkan takwanya kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan suku dan golongan hanyalah sarana untuk saling mengenal, bukan alat untuk saling membanggakan diri apalagi saling menjatuhkan. Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan hal ini dengan sabda yang sangat tegas:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ
"Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme golongan, dan bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena fanatisme golongan."
(HR. Abu Dawud No. 5121, Shahih)
Bayangkan, jamaah sekalian — sabda ini begitu keras, sampai Nabi ﷺ menyatakan bahwa penyeru fanatisme golongan itu bukan bagian dari umat beliau. Ini menunjukkan betapa besarnya bahaya sikap ini, sebab fanatisme golonganlah yang memutus tali silaturahmi antartetangga, melahirkan dendam yang berkepanjangan, dan pada akhirnya meruntuhkan keadilan serta ketenteraman di tengah masyarakat, termasuk di desa kita sendiri.
Akar Fanatik: Perdebatan yang Membanggakan Diri Sendiri
Jamaah rahimakumullah, dari mana sesungguhnya sikap fanatik ini bersemai? Salah satu akarnya adalah kebiasaan berdebat dan berselisih hanya demi mempertahankan pendapat sendiri, bukan demi mencari kebenaran. Para ulama salaf mewariskan mutiara hikmah yang sangat dalam tentang hal ini, sebagaimana dihimpun dalam kitab Hilyatul Auliya karya Imam Abu Nu'aim Al-Ashbahani. Imam Muhammad Al-Baqir rahimahullah berkata:
"Hindarilah perseteruan, karena bisa merusak hati dan melahirkan kemunafikan."
(Muhammad Al-Baqir rahimahullah — Hilyatul Auliya, 3/184)
Perhatikan, jamaah sekalian: perseteruan dan perdebatan yang dipertahankan bukan karena mencari kebenaran, melainkan karena gengsi dan harga diri, disebutkan oleh ulama ini sebagai sesuatu yang dapat merusak hati dan melahirkan bibit kemunafikan. Sebab orang yang berdebat demi menang, hatinya akan terbiasa mencari-cari alasan untuk membenarkan dirinya sendiri, walau ia sendiri sadar bahwa ia keliru. Dan kebiasaan membenarkan diri padahal batin mengetahui kekeliruan itulah salah satu bentuk nifaq yang tersembunyi.
Lebih tegas lagi, seorang tabi'in mulia, Al-Qasim bin Muhaimirah rahimahullah, memberikan peringatan yang sangat keras kepada orang yang fanatik terhadap pendapatnya sendiri:
"Jika Anda melihat seseorang keras kepala, suka berdebat, dan bangga pada pendapatnya sendiri, maka sempurnalah kerugiannya."
(Al-Qasim bin Muhaimirah rahimahullah — Hilyatul Auliya, 6/81)
Kalimat "sempurnalah kerugiannya" ini bukan kalimat biasa, jamaah sekalian. Ia menegaskan bahwa keras kepala, gemar berdebat, dan bangga pada pendapat sendiri — bukan bangga karena kebenaran yang ia bawa, melainkan karena itu adalah pendapatnya — adalah kerugian yang sempurna: rugi di dunia karena merusak hubungan sesama, dan rugi pula di akhirat karena hati yang keras enggan menerima kebenaran dari orang lain.
Ketika 'Ashabiyyah Bermutasi Menjadi Penyakit Sosial
Sosiolog besar Islam, Ibnu Khaldun rahimahullah, dalam kitabnya Al-Muqaddimah, menjelaskan bahwa manusia secara alami memiliki ikatan solidaritas kelompok ('ashabiyyah). Selama ikatan ini diarahkan pada kebaikan bersama — misalnya mendukung sosok yang paling amanah dan bertakwa — maka ia menjadi benteng yang kuat bagi masyarakat. Namun apabila 'ashabiyyah itu menyempit menjadi fanatisme buta demi memenangkan kelompok tertentu tanpa peduli pada keadilan, maka ia berubah menjadi penyakit sosial yang memutus silaturahmi, melahirkan dendam yang awet antartetangga, dan meruntuhkan keadilan bertahun-tahun lamanya.
Maka, jamaah yang dimuliakan Allah, marilah kita jujur bermuhasabah: sudahkah kita membela sesuatu karena ia benar, ataukah kita hanya membela karena itu pendapat kita, keluarga kita, atau kelompok kita? Islam mengajarkan kita untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya — teguh memegang identitas keislaman ketika berhadapan dengan pihak luar, namun tunduk pada standar keadilan, kapasitas, dan amanah tatkala menimbang di antara sesama saudara seiman.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melembutkan hati kita dari sikap keras kepala dan fanatik buta, serta menjadikan kita hamba-hamba yang mengutamakan kebenaran di atas kepentingan golongan maupun harga diri pribadi.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
— khatib duduk sejenak —
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Doa-Doa
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
"Ya Allah, satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan, keluarkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya, dan jauhkanlah kami dari perbuatan keji yang tampak maupun yang tersembunyi."
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، وَجَنِّبْنَا التَّعَصُّبَ لِأَهْوَائِنَا وَآرَائِنَا، وَاجْعَلْ الْحَقَّ ضَالَّتَنَا أَيْنَمَا وُجِدَ
"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik darinya, jauhkanlah kami dari sikap fanatik terhadap hawa nafsu dan pendapat kami sendiri, dan jadikanlah kebenaran sebagai tujuan kami di mana pun ia berada."
اللَّهُمَّ لَيِّنْ قُلُوبَنَا لِلْحَقِّ، وَطَهِّرْهَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَحُبِّ الْجَدَلِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا
"Ya Allah, lembutkanlah hati kami terhadap kebenaran, sucikanlah ia dari kesombongan, kedengkian, dan kecintaan berdebat, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang apabila diingatkan dengan ayat-ayat Rabb mereka, tidak menjatuhkan diri dalam keadaan tuli dan buta terhadapnya."
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْ قَادَةَ دَسَاتِيرِ قَرْيَتِنَا كَلَاجِنَا وَقَرْيَةِ فَاي لِمَا فِيهِ خَيْرُ أَهْلِهِمَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ الْقَرْيَتَيْنِ الْمُتَجَاوِرَتَيْنِ بِالْمَحَبَّةِ وَالتَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
"Ya Allah, perbaikilah para pemimpin dan pemegang urusan kami, berikanlah taufik kepada para pemimpin desa kami — Desa Kalajena dan Desa Pai — kepada apa yang menjadi kebaikan bagi warganya, dan satukanlah kedua desa yang bertetangga ini dalam kecintaan dan kerja sama di atas kebajikan serta ketakwaan."
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
📥 Butuh naskah ini untuk khutbah Jumat Anda sendiri? Unduh versi lengkap PDF/Word-nya:
Seri 1
Larangan Fanatik
± 10 menit
Komentar
Posting Komentar