Langsung ke konten utama

Ketika Kebenaran yang Asing Disambut dengan Amarah


"Kesabaran seseorang sering kali sebanding dengan kadar keikhlasannya."

Ada satu fenomena yang berulang kali saya saksikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin asing sebuah kebenaran di telinga seseorang, semakin besar kemungkinan ia disambut bukan dengan rasa ingin tahu, tetapi dengan penolakan, bahkan kemarahan.

Padahal, sesuatu yang belum pernah kita dengar tidak otomatis berarti salah. Ia hanya menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang persoalan itu belum sampai ke sana.

Belum lama ini saya mengalami sebuah peristiwa yang menurut saya sangat menggambarkan fenomena tersebut.

Sore itu saya melaksanakan shalat Ashar berjamaah di masjid lain. Ketika tiba di masjid tempat saya biasa shalat Magrib, beberapa jamaah menghampiri saya setelah salam. Mereka meminta penjelasan mengenai kejadian yang terjadi pada shalat Ashar.

Mereka bercerita bahwa pada tahiyat akhir imam membaca doa setelah tasyahud agak panjang. Pada saat yang sama, salah seorang makmum ternyata memiliki urusan yang cukup mendesak sehingga merasa keberatan menunggu. Seusai shalat, sambil berjalan keluar ia mengucapkan, "Saya kira tadi imamnya ketiduran."

Saya memahami bahwa ucapan itu lahir karena keadaan yang mendesak, bukan semata-mata karena ingin merendahkan imam. Di sisi lain, saya juga memahami bahwa imam tentu bermaksud mengamalkan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ. Karena itu saya mencoba menjelaskan persoalan tersebut berdasarkan dalil, bukan dengan membela salah satu pihak.

Saya mengingatkan mereka kepada hadits Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhuma tentang Mu'adz bin Jabal. Mu'adz biasa mengimami kaumnya pada shalat Isya. Pada suatu malam beliau membaca Surah Al-Baqarah sehingga shalat menjadi panjang. Salah seorang makmum yang memiliki pekerjaan segera memisahkan diri dari imam, lalu menyempurnakan shalatnya sendiri. Ketika perkara itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau tidak menyalahkan makmum tersebut, bahkan justru menegur Mu'adz seraya bersabda:

أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ؟

"Apakah engkau hendak menjadi penyebab manusia lari (dari agama), wahai Mu'adz?"

HR. Al-Bukhari dan Muslim

Saya kemudian menjelaskan bahwa para ulama mengambil beberapa faedah dari hadits ini. Salah satunya adalah bolehnya seorang makmum melakukan mufaraqah apabila terdapat uzur yang dibenarkan syariat. Imam an-Nawawi menjelaskan hal ini dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits Mu'adz.

Lalu saya mengatakan, apabila seseorang benar-benar mempunyai keperluan mendesak, sedangkan imam sudah berada pada tahiyat akhir dan yang tersisa hanyalah salam, maka ia boleh berniat berhenti mengikuti imam (mufaraqah), menyempurnakan shalatnya sendiri, lalu mengucapkan salam tanpa menunggu imam.

Ternyata penjelasan itulah yang membuat suasana menjadi ramai. Bukan karena mereka berhasil menunjukkan dalil yang membantahnya. Bukan pula karena mereka membaca penjelasan ulama yang berbeda. Melainkan karena mereka berkata, "Kami belum pernah dengar seperti itu." Kalimat inilah yang kemudian membuat saya merenung.

"Belum Pernah Mendengar" Bukan Ukuran Kebenaran

Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita sadari sering kali kita menjadikan pengalaman pribadi sebagai standar kebenaran. Jika pernah mendengarnya dari ustaz yang biasa kita ikuti, kita merasa tenang. Jika belum pernah mendengarnya dalam ceramah atau pengajian yang biasa kita hadiri, kita mulai curiga.

Padahal ukuran kebenaran dalam Islam bukanlah seberapa sering suatu pembahasan kita dengar. Ukurannya adalah dalil.

Saya memahami mengapa penjelasan tentang mufaraqah terasa asing. Hadits Mu'adz bin Jabal merupakan hadits yang sangat populer. Hampir semua ustaz pernah membahasnya ketika menjelaskan bahwa imam tidak boleh memberatkan makmum dengan memanjangkan shalat. Namun biasanya pembahasannya berhenti pada adab seorang imam.

Sedangkan sisi lain dari hadits tersebut, yaitu hukum makmum yang melakukan mufaraqah karena adanya uzur, justru jarang dijelaskan secara rinci kepada masyarakat. Padahal pembahasan ini terdapat dalam kitab-kitab syarah hadits, khususnya Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi.

Akibatnya, ketika pembahasan yang selama ini jarang disampaikan itu muncul, sebagian orang langsung menganggapnya sebagai sesuatu yang baru. Padahal yang baru bukan ilmunya. Yang baru hanyalah telinga kita mendengarnya.

Kesalahan Memahami Kata "Memisahkan Diri"

Ada hal lain yang menurut saya juga menarik. Banyak orang membaca terjemahan hadits yang berbunyi bahwa makmum tersebut "memisahkan diri dari jamaah." Lalu mereka memahami bahwa maknanya adalah keluar dari saf, membatalkan shalat, kemudian mengulang shalat sendirian di tempat lain.

Padahal bukan itu yang dimaksud oleh para ulama. Yang dimaksud adalah mufaraqah, yaitu seorang makmum mengubah niatnya dari mengikuti imam menjadi shalat sendirian (munfarid), kemudian menyempurnakan shalatnya tanpa lagi mengikuti gerakan imam.

Shalatnya tetap berlangsung. Shalatnya tidak batal. Yang berubah hanyalah statusnya, dari makmum menjadi orang yang shalat sendiri.

Kesalahpahaman seperti ini menunjukkan bahwa membaca terjemahan hadits saja belum cukup untuk memahami hukum. Banyak rincian fiqih yang baru tampak setelah membaca penjelasan para ulama.

Mengapa Orang Cepat Menolak?

Fenomena ini telah lama diperhatikan oleh para ulama. Ibnu Hibban berkata dalam Raudhah al-'Uqala' (terjemahan Pustaka Azzam, hlm. 232):

العاقلُ قلبُهُ وراءَ لسانِهِ، والأحمقُ لسانُهُ وراءَ قلبِهِ

"Orang yang berakal, hatinya berada di belakang lisannya; sedangkan orang yang dungu, lisannya berada di depan hatinya."

Artinya, orang yang berakal akan berpikir, meneliti, dan mencari bukti sebelum berbicara. Sebaliknya, orang yang dangkal ilmunya sering kali lebih dahulu membantah daripada memahami.

Para salaf juga telah mengingatkan agar ilmu disampaikan sesuai kemampuan pendengarnya. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً

"Tidaklah engkau menyampaikan suatu pembicaraan kepada suatu kaum yang belum mampu dijangkau oleh akal mereka, melainkan hal itu akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka."

HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim

Maksudnya bukan menyembunyikan ilmu, tetapi memahami bahwa manusia membutuhkan proses. Ilmu yang baru pertama kali didengar sering kali mengagetkan, apalagi jika bertentangan dengan pemahaman yang telah lama tertanam.

Namun keterkejutan semata sebenarnya tidak cukup untuk melahirkan amarah. Ada sesuatu yang lain yang membuat penolakan itu terasa begitu cepat dan begitu keras.

Ketika Riya' Memiliki Anak-anak yang Tersembunyi

Di sinilah saya melihat bahwa persoalannya bukan sekadar kurangnya ilmu. Ada penyakit hati yang sering kali ikut bekerja, yaitu riya'.

Kebanyakan kita memahami riya' hanya sebatas memperlihatkan ibadah agar dipuji manusia. Padahal para ulama menjelaskan bahwa riya' merupakan bagian dari keinginan hati untuk memperoleh kedudukan di sisi manusia, dan bentuknya bisa jauh lebih halus daripada sekadar pamer shalat atau sedekah.

Kalau boleh saya mengibaratkan, riya' memiliki "anak-anak" yang lahir darinya: gengsi, haus pengakuan, enggan dikoreksi, ingin selalu tampak paling tahu, dan sulit menerima kebenaran dari orang lain. Ini bukan istilah baku yang dinisbatkan kepada ulama, melainkan sekadar tamtsil untuk memudahkan kita mengenali bagaimana satu penyakit hati bisa bercabang menjadi banyak sikap yang tampaknya berbeda-beda, padahal akarnya sama.

Ketika "anak-anak" ini tumbuh, seseorang tidak lagi mencari kebenaran. Yang ia jaga adalah citra dirinya. Akibatnya, setiap kali mendengar ilmu yang belum pernah ia ketahui, yang pertama kali bereaksi bukan akalnya, melainkan gengsinya.

Muncullah kalimat-kalimat seperti, "Saya belum pernah dengar." "Ustaz kami tidak pernah mengajarkan begitu." "Kalau memang benar, kenapa baru sekarang saya tahu?"

Padahal semua kalimat itu sama sekali belum menjawab pertanyaan pokok: Apakah dalilnya shahih atau tidak?

Seharusnya pertanyaan pertama seorang penuntut ilmu bukanlah, "Siapa yang mengatakannya?" atau "Mengapa saya belum pernah mendengarnya?" Melainkan, "Apa dalilnya?"

Jika dalilnya benar, maka kewajiban seorang mukmin adalah menerimanya, sekalipun baru pertama kali mendengarnya. Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

"Tidaklah pantas bagi seorang mukmin maupun mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka."

QS. Al-Ahzab: 36

Sebaliknya, hati yang ikhlas tidak merasa kehilangan kehormatan ketika harus berkata, "Alhamdulillah, saya baru mengetahui hadits ini." Kalimat sederhana seperti ini jauh lebih mulia daripada mempertahankan pendapat yang keliru hanya demi menjaga gengsi. Dan justru di titik inilah "anak-anak riya'" itu paling mudah dikenali — bukan dari besar-kecilnya amal seseorang, tetapi dari seberapa ringan atau seberapa berat lisannya mengucapkan, "saya keliru."

Berapa Banyak Ilmu yang Sudah Kita Pelajari?

Kalimat "Saya belum pernah membaca yang seperti itu" sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai pengakuan atas keterbatasan diri, bukan sebagai alasan menolak sebuah dalil.

Cobalah kita bertanya kepada diri sendiri. Berapa tahun kehidupan kita benar-benar dihabiskan untuk membaca kitab para ulama? Berapa banyak hadits yang telah kita pelajari secara utuh beserta syarahnya? Berapa banyak majelis ilmu yang kita hadiri secara rutin, bukan sekadar ceramah sesekali?

Bandingkan dengan para imam besar. Imam Ahmad bin Hanbal menghabiskan hampir seluruh hidupnya mengumpulkan, menghafal, dan mempelajari hadits. Imam al-Bukhari melakukan perjalanan ribuan kilometer demi menemui para perawi hingga dikenal menghafal ratusan ribu bahkan disebut sampai satu juta hadits beserta sanad-sanadnya.

Seandainya mereka berkata, "Saya belum pernah membaca hadits seperti itu," mungkin ucapan tersebut memiliki bobot, karena mereka telah menyelami lautan ilmu yang sangat luas. Adapun kita, baru membaca setetes air, lalu berani mengatakan bahwa sesuatu pasti salah hanya karena belum pernah kita dengar. Bukankah ini sikap yang perlu kita renungkan?

Ikhlas Melahirkan Kesabaran

Di sinilah saya melihat hubungan yang erat antara ikhlas dan sabar — dan mengapa "anak-anak riya'" yang saya sebutkan tadi begitu mudah tumbuh subur setiap kali keikhlasan di hati kita pudar.

Orang yang ikhlas tidak merasa malu mengatakan, "Saya baru tahu." "Ternyata selama ini saya keliru." "Terima kasih atas ilmunya." Karena tujuan utamanya bukan memenangkan pendapat, melainkan mencari ridha Allah.

Sebaliknya, hati yang dipenuhi gengsi akan lebih mudah marah ketika berhadapan dengan ilmu yang baru.

Maka semakin besar keikhlasan seseorang, semakin besar pula kesabarannya dalam menerima kebenaran. Sebaliknya, semakin besar keinginannya untuk dipandang benar oleh manusia, semakin sulit baginya bersabar ketika kebenaran datang dari arah yang tidak ia duga — dan di situlah "anak-anak riya'" akan selalu menemukan celah untuk tumbuh.

Semoga Allah Ta'ala melembutkan hati kita untuk menerima setiap kebenaran berdasarkan dalil, bukan berdasarkan kebiasaan, popularitas, atau sekadar karena pernah atau belum pernah mendengarnya. Semoga Allah menjauhkan kita dari kesombongan yang menghalangi kita menerima ilmu, serta menghiasi hati kita dengan keikhlasan yang melahirkan kesabaran dalam menuntut ilmu dan menerima nasihat. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Pilar yang Menentukan Wajah Sebuah Desa

Setiap kali membicarakan kemajuan sebuah desa, pembicaraan sering berhenti di satu titik saja: siapa kepala desanya. Seolah baik-buruknya sebuah desa hanya ditentukan oleh satu orang di kursi tertinggi. Padahal, kalau kita amati desa yang benar-benar bergerak maju, hampir selalu ada empat unsur yang bekerja bersamaan, bukan satu unsur yang bekerja sendirian. Pertama, pemimpin yang ideal. Buku Desa terbitan Kementerian Desa PDTT menyebutkan ciri kepala desa yang baik: mendengar, mengayomi, tidak anti kritik, transparan, dan adil. Ini bukan daftar harapan yang berlebihan, ini kebutuhan dasar. Tanpa lima sifat ini, sebaik apa pun program yang dijalankan, kepercayaan masyarakat akan terus goyah. Kedua, tokoh yang dewasa. Desa membutuhkan orang-orang yang berani mengkritik, tapi dengan cara yang santun, dan yang senang menasihati tanpa merasa lebih tinggi. Buku yang sama menyebut anggota BPD yang baik harus berani, jujur, objektif, tidak mudah diintervensi, dan memahami aturan. Sifat ini...

KHUTBAH JUM'AT SERI 1-LARANGAN FANATIK

Khutbah & Kajian · Seri 1 Ada satu sikap yang terasa seperti sedang membela kebenaran, padahal yang sesungguhnya sedang dibela hanyalah golongan sendiri — dan Nabi ﷺ menegaskan, penyerunya bukan bagian dari umat beliau. Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأُخُوَّةِ وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالتَّعَصُّبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan...