Setiap hari, saya berhadapan dengan data-data desa — jumlah penduduk per dusun, profil RT dan RW, capaian program pembangunan, hingga dokumen perencanaan seperti RPJMDes dan RKPDes. Dari balik angka-angka itu, saya melihat sesuatu yang lebih dalam: desa adalah tempat pertama di mana demokrasi benar-benar diuji.
Di desa, warga tidak mengenal calon pemimpinnya lewat baliho atau iklan televisi. Mereka mengenalnya lewat tetangga, lewat musyawarah dusun, lewat siapa yang rajin ke masjid dan siapa yang hanya muncul menjelang pemilihan. Di sinilah — di level paling dekat dengan rakyat — akar dari baik-buruknya demokrasi kita sesungguhnya tumbuh.
Kalau Akarnya Rusak, Sulit Berharap Batangnya Lurus
Politik uang yang dianggap "biasa" di tingkat RT dan dusun akan terbawa ke Pilkades. Yang terbiasa di Pilkades akan terbawa ke Pileg. Dan yang terbiasa di tingkat kecamatan akan terbawa hingga ke panggung nasional. Sebaliknya, jika masyarakat desa terbiasa memilih dengan pertimbangan amanah dan kelayakan sejak pemilihan kepala dusun sekalipun, budaya itu akan ikut naik ke tingkat yang lebih tinggi.
Inilah alasan mengapa perbaikan tidak bisa hanya dimulai dari Jakarta atau dari kampanye-kampanye besar di kota. Perbaikan yang sejati dimulai dari akar rumput — dari desa, dari dusun, dari majelis taklim dan masjid kita sendiri.
Kepemimpinan Dimulai dari Unit Terkecil
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kepemimpinan itu berlapis, dimulai dari unit yang paling kecil:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ۖ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya... maka pemimpin (negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bertingkat — mulai dari kepala keluarga, tokoh dusun, kepala desa, hingga pemimpin negara — semuanya terhubung dalam satu rantai tanggung jawab. Memperbaiki mata rantai paling bawah berarti memperkuat seluruh bangunan di atasnya.
Peran Strategis Tokoh Desa dan Tokoh Agama
Sebagai perangkat desa sekaligus khatib Jumat, saya meyakini bahwa perangkat desa, tokoh masyarakat, dan da'i memiliki posisi yang sangat strategis. Kita adalah pihak yang paling dekat dengan warga, paling dipercaya, dan paling mungkin didengar ketika berbicara soal nilai dan akhlak — termasuk akhlak dalam berpolitik.
Di desa-desa kita — termasuk di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, dan di banyak desa lain di seluruh Indonesia — perubahan besar bisa dimulai dari hal sederhana: khutbah Jumat yang menyentuh etika memilih, majelis taklim yang membahas bahaya politik uang, atau sekadar obrolan warung kopi yang meluruskan cara pandang tentang amanah kepemimpinan.
Amanah Suara: Dimulai dari Desa, untuk Bangsa
Blog ini lahir dari keyakinan itu. Amanah Suara tidak hanya berbicara soal politik nasional, tetapi sengaja memulai dari perspektif desa — karena di sanalah nilai-nilai itu pertama kali ditanam, dan di sanalah pula perubahan yang paling tahan lama akan tumbuh.
Mari kita mulai dari yang terdekat: dari dusun kita, dari desa kita, dari suara yang kita titipkan kepada tetangga sendiri.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Komentar
Posting Komentar