Langsung ke konten utama

KHUTBAH JUM'AT — SERI 3: EMPAT KATEGORI PERGAULAN

Khutbah & Kajian · Seri 3

Ada orang yang di akhirat kelak sampai menggigit tangannya sendiri karena menyesal — bukan karena dosa besar yang ia lakukan sendiri, tapi karena salah memilih teman dekat semasa hidup.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, karena istiqomahnya ibadah seseorang ternyata tidak hanya ditentukan oleh niat dan ilmunya semata, tetapi juga oleh siapa yang ia jadikan teman bergaul. Iman bisa naik karena majelis yang baik, dan iman bisa turun drastis karena salah memilih pergaulan.

Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan kita dengan sangat keras dalam Al-Qur'an:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا. يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا
"Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata, 'Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku, sungguh dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) setelah ia datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia."
(QS. Al-Furqan: 27-29)

Jamaah rahimakumullah, bayangkan, seseorang yang di akhirat kelak sampai menggigit tangannya sendiri karena menyesal — bukan karena dosa besar yang ia lakukan sendiri, tapi karena salah memilih teman dekat semasa hidup. Ini menunjukkan betapa beratnya konsekuensi dari pergaulan yang keliru.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah, dalam kitab beliau Madarij As-Salikin, memberi komentar yang sangat tajam tentang bahaya bergaul sembarangan. Beliau berkata:

"Betapa banyaknya dampak negatif dari bergaul dengan orang-orang, betapa banyaknya kenikmatan yang terhalang, betapa banyak pula cobaan yang diturunkan, dan betapa banyak musibah yang terjadi (akibat pergaulan). Adakah musibah yang lebih besar daripada manusia itu sendiri? Apakah ada yang lebih berbahaya bagi Abu Thalib di saat sakratulmaut, selain teman-teman buruknya yang senantiasa menghalanginya dari mengucapkan satu kalimat yang dapat menjamin kebahagiaan abadi baginya?"
(Ibnu Qayyim al-Jauziyyah — Madarij As-Salikin, 1:453)

Dari sinilah, para ulama — di antaranya dijelaskan oleh Syekh Ahmad Farid dalam Tazkiyatun Nufus — merumuskan bahwa manusia yang kita gauli terbagi menjadi empat kategori. Mari kita renungkan satu per satu.

Empat Kategori Teman dalam Pergaulan

Kategori pertama: teman seperti makanan pokok. Ini adalah golongan ulama dan orang-orang saleh. Kita betul-betul membutuhkan mereka setiap hari — sebagaimana tubuh butuh makan — karena dari merekalah kita mendapat nasihat dan diingatkan kepada Allah. Bergaul dengan mereka adalah keberuntungan yang sesungguhnya.

Kategori kedua: teman seperti obat. Dibutuhkan hanya sesekali, seperlunya, misalnya dalam urusan pekerjaan, jual-beli, atau transaksi duniawi. Tidak harus intens, cukup sebatas kebutuhan.

Kategori ketiga: teman seperti penyakit. Ada yang ringan, ada yang kronis. Mereka tidak memberi manfaat ilmu atau nasihat apa pun, bahkan ucapannya kasar dan menimbulkan ketidaknyamanan hati. Kalaupun terpaksa berurusan, cukup sebatas keperluan lahiriah saja, sementara hati kita tetap mengingkari keburukannya.

Kategori keempat: teman seperti racun — inilah yang paling berbahaya. Bergaul dengan mereka bisa mematikan hati, karena mereka adalah pelaku kesesatan dan bid'ah, yang menganggap sunnah sebagai bid'ah dan bid'ah sebagai sunnah. Golongan ini sepatutnya dijauhi, kecuali iman kita sudah benar-benar kuat.

Cermin yang Diwariskan Rasulullah ﷺ

Jamaah yang dirahmati Allah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberi perumpamaan yang sangat indah tentang hal ini. Dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
"Perumpamaan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak kesturi dan peniup ubupan tukang besi. Pembawa minyak kesturi, bisa jadi ia akan memberimu sebagian darinya, atau engkau membeli darinya, atau minimal engkau mendapatkan baunya yang harum. Sedangkan peniup ubupan tukang besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu, atau minimal engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya."
(HR. Bukhari No. 5534 dan Muslim No. 2628)

Dan dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَىٰ دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
"Seseorang itu bergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat."
(HR. Abu Dawud No. 4833 dan At-Tirmidzi No. 2378, dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)

Jamaah rahimakumullah, dua hadis ini menegaskan hal yang sama: agama dan istiqomah ibadah kita akan terwarnai oleh siapa yang paling sering kita temani. Ibnu Qayyim juga menambahkan, sekalipun pergaulan itu berlandaskan kebaikan — saling menasihati dalam ketaatan dan kesabaran — tetap ada tiga hal yang bisa merusaknya: basa-basi berlebihan, berkumpul melebihi batas kebutuhan, dan berubahnya niat menjadi sekadar mencari kesenangan hingga melalaikan tujuan utama, yakni mengingat Allah.

Karena beratnya risiko salah bergaul, tidak sedikit sahabat dan ulama salaf yang justru menganjurkan agar kita menyediakan waktu untuk menjauh sejenak dari keramaian, demi menjaga kesehatan hati kita.

خُذُوا بِحَظِّكُمْ مِنَ الْعُزْلَةِ
"Ambillah bagianmu untuk menjalani waktu menyendiri (dari pergaulan yang tidak perlu)."
(Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu)
نِعْمَ صَوْمَعَةُ الرَّجُلِ بَيْتُهُ، يَكُفُّ بَصَرَهُ وَلِسَانَهُ
"Sebaik-baik tempat seseorang beribadah adalah rumahnya, di mana ia menahan pandangan dan lisannya."
(Abu Darda radhiyallahu 'anhu)

Mari kita jadikan ini bahan muhasabah bersama, khususnya di lingkungan kita — dua desa bertetangga, Kalajena dan Pai, yang satu rumpun dan saling memengaruhi satu sama lain. Kebaikan yang tumbuh di satu majelis akan menular ke tetangga desa, dan sebaliknya, kerusakan pergaulan di satu tempat pun bisa menjalar. Karena itu, pilihlah majelis yang menyehatkan hati dan menambah iman, bukan yang mematikannya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
— khatib duduk sejenak —

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

Doa-Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَصْحَابِنَا مَنْ يُذَكِّرُنَا بِكَ، وَخَيْرَ إِخْوَانِنَا مَنْ يُقَرِّبُنَا إِلَيْكَ
"Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik sahabat kami adalah orang yang mengingatkan kami kepada-Mu, dan sebaik-baik saudara kami adalah orang yang mendekatkan kami kepada-Mu."
اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا مَجَالِسَ السُّوءِ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا عَامِرَةً بِذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah, jauhkanlah kami dari majelis-majelis keburukan, dan jadikanlah hati kami senantiasa makmur dengan zikir, syukur, dan ibadah yang baik kepada-Mu."
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka."
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Daftar Referensi

  • Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madarij As-Salikin bayna Manazil Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in, 1: 453
  • Ahmad Farid, Tazkiyatun Nufus, hal. 41-43
  • QS. Al-Furqan: 27-29
  • HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628
  • HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378 (hasan menurut Syekh Al-Albani)
  • Atsar Umar bin Khattab dan Abu Darda radhiyallahu 'anhuma

📥 Butuh naskah ini untuk khutbah Jumat Anda sendiri? Unduh versi lengkap PDF/Word-nya:

Seri 3

Empat Kategori Pergaulan

± 10 menit

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Kebenaran yang Asing Disambut dengan Amarah

"Kesabaran seseorang sering kali sebanding dengan kadar keikhlasannya." Ada satu fenomena yang berulang kali saya saksikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin asing sebuah kebenaran di telinga seseorang, semakin besar kemungkinan ia disambut bukan dengan rasa ingin tahu, tetapi dengan penolakan, bahkan kemarahan. Padahal, sesuatu yang belum pernah kita dengar tidak otomatis berarti salah. Ia hanya menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang persoalan itu belum sampai ke sana. Belum lama ini saya mengalami sebuah peristiwa yang menurut saya sangat menggambarkan fenomena tersebut. Sore itu saya melaksanakan shalat Ashar berjamaah di masjid lain. Ketika tiba di masjid tempat saya biasa shalat Magrib, beberapa jamaah menghampiri saya setelah salam. Mereka meminta penjelasan mengenai kejadian yang terjadi pada shalat Ashar. Mereka bercerita bahwa pada tahiyat akhir imam membaca doa setelah tasyahud agak panjang. Pada saat yang sama, salah seorang makmum ternyata memili...

Empat Pilar yang Menentukan Wajah Sebuah Desa

Setiap kali membicarakan kemajuan sebuah desa, pembicaraan sering berhenti di satu titik saja: siapa kepala desanya. Seolah baik-buruknya sebuah desa hanya ditentukan oleh satu orang di kursi tertinggi. Padahal, kalau kita amati desa yang benar-benar bergerak maju, hampir selalu ada empat unsur yang bekerja bersamaan, bukan satu unsur yang bekerja sendirian. Pertama, pemimpin yang ideal. Buku Desa terbitan Kementerian Desa PDTT menyebutkan ciri kepala desa yang baik: mendengar, mengayomi, tidak anti kritik, transparan, dan adil. Ini bukan daftar harapan yang berlebihan, ini kebutuhan dasar. Tanpa lima sifat ini, sebaik apa pun program yang dijalankan, kepercayaan masyarakat akan terus goyah. Kedua, tokoh yang dewasa. Desa membutuhkan orang-orang yang berani mengkritik, tapi dengan cara yang santun, dan yang senang menasihati tanpa merasa lebih tinggi. Buku yang sama menyebut anggota BPD yang baik harus berani, jujur, objektif, tidak mudah diintervensi, dan memahami aturan. Sifat ini...

KHUTBAH JUM'AT SERI 1-LARANGAN FANATIK

Khutbah & Kajian · Seri 1 Ada satu sikap yang terasa seperti sedang membela kebenaran, padahal yang sesungguhnya sedang dibela hanyalah golongan sendiri — dan Nabi ﷺ menegaskan, penyerunya bukan bagian dari umat beliau. Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأُخُوَّةِ وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالتَّعَصُّبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan...