"Tidak semua orang marah karena kita salah. Sebagian marah justru karena kebenaran mengganggu kenyamanan yang telah lama mereka pelihara."
Setiap manusia mencintai kebenaran. Namun kenyataannya, tidak setiap manusia senang ketika kebenaran itu datang kepadanya.
Sejarah para nabi menjadi bukti paling nyata. Nabi Nuh berdakwah hampir seribu tahun, tetapi mayoritas kaumnya tetap menolak. Nabi Ibrahim dihukum bakar karena menghancurkan berhala. Nabi Musa dituduh sebagai penyihir. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ, manusia paling mulia, disebut pendusta, penyair, orang gila, dan tukang sihir.
Pertanyaannya, apakah mereka semua salah? Tentu tidak. Yang bermasalah bukanlah kebenaran, melainkan hati manusia yang enggan menerimanya. Allah Ta'ala berfirman:
"Sebenarnya mereka tidak mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah."
QS. Al-An'am: 33
Ayat ini mengajarkan bahwa penolakan terhadap dakwah sering kali bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena kesombongan.
Kebenaran Mengusik Zona Nyaman
Kebenaran memiliki satu sifat yang unik. Ia memaksa manusia melakukan perubahan.
Orang yang terbiasa menipu akan merasa terganggu ketika mendengar keutamaan kejujuran. Orang yang terbiasa bermalas-malasan akan tidak nyaman ketika mendengar pentingnya amanah. Orang yang selama ini menikmati jabatan dengan cara yang tidak benar akan merasa tersindir ketika mendengar tentang keadilan.
Karena itu, reaksi pertama terhadap kebenaran sering kali bukan menerima, melainkan menolak.
Amarah Bukan Bukti Kesalahan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyimpulkan, "Kalau banyak orang marah, berarti yang disampaikan salah." Padahal belum tentu.
Banyak kebenaran yang pada awalnya ditolak, lalu beberapa tahun kemudian diterima sebagai sesuatu yang biasa. Yang menjadi ukuran bukan banyaknya orang yang setuju atau menolak. Ukurannya adalah dalil. Allah berfirman:
"Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah."
QS. Al-An'am: 116
Karena itu, seorang muslim tidak boleh mengukur benar dan salah berdasarkan jumlah pengikut.
Tetap Santun Menyampaikan Kebenaran
Meskipun demikian, menyampaikan kebenaran tidak boleh dilakukan dengan kasar. Rasulullah ﷺ bersabda:
HR. Muslim
Maka tugas seorang penyeru bukan memenangkan perdebatan. Bukan pula mempermalukan orang lain. Tetapi menjelaskan kebenaran dengan ilmu, hikmah, dan kesabaran. Hidayah berada di tangan Allah.
Penutup
Tidak semua orang akan menyukai nasihat. Tidak semua orang akan menerima dalil. Namun itu bukan alasan untuk meninggalkan kebenaran.
Yang harus kita lakukan adalah terus belajar, memperbaiki diri, dan menyampaikan ilmu sesuai kemampuan dengan adab yang baik. Karena pada akhirnya, yang akan ditanya oleh Allah bukanlah berapa banyak orang yang memuji kita, tetapi apakah kita telah menyampaikan amanah dengan jujur.
"Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat."
HR. Al-Bukhari
Komentar
Posting Komentar