Langsung ke konten utama

KHUTBAH JUM'AT SERI 7: ADAB BERTAMU

Khutbah & Kajian · Seri 7

Di desa kita, saling berkunjung sudah jadi kebiasaan sehari-hari — tapi jangan sampai kebiasaan itu keluar dari tuntunan Islam, sebab bertamu pun punya adabnya sendiri.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ، وَصِلَةِ الْأَرْحَامِ، وَالْإِحْسَانِ إِلَى الْجِيرَانِ، وَجَعَلَ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجِنَانِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik untuk perjalanan hidup kita menuju akhirat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Islam adalah agama yang sempurna. Ia mengatur bukan hanya masalah ibadah, tetapi juga adab sehari-hari. Salah satunya adalah adab bertamu. Dalam kehidupan kita di desa, saling berkunjung sudah menjadi kebiasaan, tapi jangan sampai kebiasaan itu keluar dari tuntunan Islam. Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya."
(QS. An-Nur: 27)

Ayat ini mengajarkan bahwa bertamu ada aturannya: meminta izin sebelum masuk, dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ
"Apabila salah seorang di antara kalian meminta izin (bertamu) sebanyak tiga kali dan tidak diizinkan, maka hendaklah ia pulang."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, kalau kita sudah mengetuk atau memanggil tiga kali tapi belum dijawab, jangan memaksa masuk. Mungkin tuan rumah sedang sibuk, tidak siap menerima tamu, atau ada alasan lain. Ma'asyiral muslimin, di antara adab bertamu yang diajarkan Islam adalah sebagai berikut.

Pertama: Datang di Waktu yang Tepat

Jangan sampai kunjungan kita mengganggu waktu istirahat atau waktu makan tuan rumah. Ayat perintah meminta izin yang telah disebutkan di atas, menurut Tafsir Ibnu Katsir, sesungguhnya juga mengandung perintah untuk memastikan waktu yang tepat — bukan sekadar mengetuk pintu, tetapi memastikan kedatangan kita tidak mengganggu kenyamanan penghuni rumah.

Kedua: Tidak Berlama-lama Sehingga Memberatkan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Jaizahnya adalah sehari semalam. Hak tamu adalah tiga hari, selebihnya adalah sedekah."
(HR. Bukhari no. 6019, Muslim no. 48)

Hadis ini menjadi pedoman bahwa bertamu tidak boleh terlalu lama hingga membebani tuan rumah. Ada batas kewajaran yang mesti kita hormati, sebagaimana tuan rumah pun punya hak untuk kembali pada kesibukannya.

Ketiga: Menjaga Pandangan dan Duduk di Tempat yang Diizinkan

Tidak melihat-lihat isi rumah yang bukan hak kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
"Dia (Allah) mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada."
(QS. Ghafir: 19)

Menurut Ibnu Katsir dan Al-Baghawi, yang dimaksud khainat al-a'yun adalah pandangan mata yang tidak jujur, seperti mencuri pandang pada hal yang haram atau rahasia orang lain. Allah mengetahui pandangan sekilas yang tidak diperbolehkan itu, meskipun manusia lain tidak mengetahuinya. Ayat ini memperingatkan agar mata dijaga, termasuk saat bertamu, agar tidak memandang ke tempat yang bukan hak kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِذْنُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ
"Sesungguhnya izin itu disyariatkan untuk menjaga pandangan."
(HR. Bukhari no. 6241, Muslim no. 2156)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِذَا اطَّلَعَ فِي بَيْتِكَ أَحَدٌ وَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ فَحَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ فَلَا دِيَةَ وَلَا قِصَاصَ
"Jika seseorang mengintip ke dalam rumahmu tanpa izin, lalu engkau lempar dengan kerikil hingga matanya buta, maka tidak ada diyat dan tidak ada qishash."
(HR. Bukhari no. 6902, Muslim no. 2158)

Hadis ini menunjukkan betapa kerasnya larangan mengintip isi rumah orang, sampai-sampai tuan rumah dibolehkan melindungi privasinya secara tegas.

Keempat: Mengucapkan Salam dan Mendoakan Tuan Rumah

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
"Apabila kalian memasuki rumah-rumah, maka ucapkanlah salam kepada penghuninya; salam yang penuh berkah dan baik dari Allah."
(QS. An-Nur: 61)
أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
"Sebarkanlah salam di antara kalian."
(HR. Muslim no. 54)

Mengucapkan salam adalah doa keselamatan untuk tuan rumah, sekaligus mempererat ukhuwah di antara kita.

Kelima: Tidak Membicarakan Aib Orang di Rumah yang Kita Datangi

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا
"Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain."
(QS. Al-Hujurat: 12)
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari no. 6018, Muslim no. 47)

Bertamu adalah untuk silaturahim, bukan untuk mencari atau menyebarkan keburukan tuan rumah maupun orang lain. Jamaah yang dirahmati Allah, mari kita jaga adab bertamu ini agar hubungan kita dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat selalu harmonis, sesuai tuntunan Islam.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
— khatib duduk sejenak —

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita ingat bahwa adab bertamu bukan hanya soal sopan santun, tapi juga bentuk ibadah. Kita akan mendapat pahala jika melakukannya dengan ikhlas dan sesuai sunnah Rasulullah ﷺ.

Jagalah niat ketika bertamu: untuk silaturahim, menambah persaudaraan, bukan untuk membicarakan keburukan atau mencari kesalahan. Sebaliknya, jika ada tamu yang datang, sambutlah dengan wajah ramah dan hati lapang. Allah Ta'ala berfirman:

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)."
(QS. Ar-Rahman: 60)

Semoga Allah menjadikan kita orang yang menjaga adab dalam bertamu dan memuliakan tamu, sehingga hidup kita penuh keberkahan.

Doa-Doa

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka."
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Kebenaran yang Asing Disambut dengan Amarah

"Kesabaran seseorang sering kali sebanding dengan kadar keikhlasannya." Ada satu fenomena yang berulang kali saya saksikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin asing sebuah kebenaran di telinga seseorang, semakin besar kemungkinan ia disambut bukan dengan rasa ingin tahu, tetapi dengan penolakan, bahkan kemarahan. Padahal, sesuatu yang belum pernah kita dengar tidak otomatis berarti salah. Ia hanya menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang persoalan itu belum sampai ke sana. Belum lama ini saya mengalami sebuah peristiwa yang menurut saya sangat menggambarkan fenomena tersebut. Sore itu saya melaksanakan shalat Ashar berjamaah di masjid lain. Ketika tiba di masjid tempat saya biasa shalat Magrib, beberapa jamaah menghampiri saya setelah salam. Mereka meminta penjelasan mengenai kejadian yang terjadi pada shalat Ashar. Mereka bercerita bahwa pada tahiyat akhir imam membaca doa setelah tasyahud agak panjang. Pada saat yang sama, salah seorang makmum ternyata memili...

Empat Pilar yang Menentukan Wajah Sebuah Desa

Setiap kali membicarakan kemajuan sebuah desa, pembicaraan sering berhenti di satu titik saja: siapa kepala desanya. Seolah baik-buruknya sebuah desa hanya ditentukan oleh satu orang di kursi tertinggi. Padahal, kalau kita amati desa yang benar-benar bergerak maju, hampir selalu ada empat unsur yang bekerja bersamaan, bukan satu unsur yang bekerja sendirian. Pertama, pemimpin yang ideal. Buku Desa terbitan Kementerian Desa PDTT menyebutkan ciri kepala desa yang baik: mendengar, mengayomi, tidak anti kritik, transparan, dan adil. Ini bukan daftar harapan yang berlebihan, ini kebutuhan dasar. Tanpa lima sifat ini, sebaik apa pun program yang dijalankan, kepercayaan masyarakat akan terus goyah. Kedua, tokoh yang dewasa. Desa membutuhkan orang-orang yang berani mengkritik, tapi dengan cara yang santun, dan yang senang menasihati tanpa merasa lebih tinggi. Buku yang sama menyebut anggota BPD yang baik harus berani, jujur, objektif, tidak mudah diintervensi, dan memahami aturan. Sifat ini...

KHUTBAH JUM'AT SERI 1-LARANGAN FANATIK

Khutbah & Kajian · Seri 1 Ada satu sikap yang terasa seperti sedang membela kebenaran, padahal yang sesungguhnya sedang dibela hanyalah golongan sendiri — dan Nabi ﷺ menegaskan, penyerunya bukan bagian dari umat beliau. Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأُخُوَّةِ وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالتَّعَصُّبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan...