Langsung ke konten utama

KHUTBAH JUM'AT SERI 10: ADAB BERDO'A

Khutbah & Kajian · Seri 10:Do'a (1/2)

Doa adalah ibadah yang paling agung — tapi seperti ibadah lainnya, ia punya adab. Bukan sekadar mengangkat tangan, melainkan menghadirkan hati.

Khutbah Pertama

اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Amma ba'du, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, doa adalah ibadah yang paling agung — penghubung langsung antara hamba dengan Rabb-nya. Allah ﷻ berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'"
(QS. Ghafir [40]: 60)

Tetapi seperti ibadah lainnya, doa punya adab. Bukan sekadar meminta, melainkan meminta dengan cara yang Rasulullah ﷺ ajarkan.

Ikhlas dan Memuji Allah Terlebih Dahulu

Adab pertama, ikhlas — doa dipanjatkan semata karena Allah, tanpa riya' atau sum'ah.

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
"Berdoalah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."
(QS. Ghafir: 14)

Adab kedua, memulai dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi ﷺ sebelum menyampaikan permintaan.

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ يَدْعُو بِمَا شَاءَ
"Jika salah seorang dari kalian berdoa, hendaknya ia memulai dengan memuji Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ, lalu berdoa dengan apa yang ia kehendaki."
(HR. Abu Dawud)

Khusyuk, Yakin, dan Tidak Tergesa-Gesa

Adab ketiga, khusyuk dan merendahkan diri — bukan berdoa dengan suara keras dan tergesa, melainkan dengan hati yang tunduk.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
(QS. Al-A'raf: 55)

Adab keempat, tidak tergesa-gesa ingin segera dikabulkan. Rasulullah ﷺ bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
"Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata: aku telah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak Meminta Dosa atau Memutus Silaturahim

Adab kelima, tidak berdoa untuk sesuatu yang mengandung dosa atau memutus tali silaturahim. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ
"Doa akan terus dikabulkan selama tidak berdoa untuk dosa atau memutus silaturahim."
(HR. Muslim)

Jamaah yang dimuliakan Allah, kelima adab ini sederhana untuk dihafal, tapi berat untuk dijaga konsisten: ikhlas, memuji Allah dan bershalawat lebih dulu, khusyuk, sabar menanti, dan menjauhi doa yang buruk. Marilah kita perbaiki cara kita berdoa — jangan sekadar meminta, tapi hadirkan hati, karena doa bukan hanya tentang ucapan, melainkan keyakinan dan kerendahan hati kepada Allah.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
— khatib duduk sejenak —

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

Doa-Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الدَّاعِينَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الْخُشُوعَ فِي الدُّعَاءِ، وَاسْتَجِبْ دُعَاءَنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berdoa dengan ikhlas, karuniakanlah kepada kami kekhusyukan dalam berdoa, dan kabulkanlah doa kami, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang."
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Kebenaran yang Asing Disambut dengan Amarah

"Kesabaran seseorang sering kali sebanding dengan kadar keikhlasannya." Ada satu fenomena yang berulang kali saya saksikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin asing sebuah kebenaran di telinga seseorang, semakin besar kemungkinan ia disambut bukan dengan rasa ingin tahu, tetapi dengan penolakan, bahkan kemarahan. Padahal, sesuatu yang belum pernah kita dengar tidak otomatis berarti salah. Ia hanya menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang persoalan itu belum sampai ke sana. Belum lama ini saya mengalami sebuah peristiwa yang menurut saya sangat menggambarkan fenomena tersebut. Sore itu saya melaksanakan shalat Ashar berjamaah di masjid lain. Ketika tiba di masjid tempat saya biasa shalat Magrib, beberapa jamaah menghampiri saya setelah salam. Mereka meminta penjelasan mengenai kejadian yang terjadi pada shalat Ashar. Mereka bercerita bahwa pada tahiyat akhir imam membaca doa setelah tasyahud agak panjang. Pada saat yang sama, salah seorang makmum ternyata memili...

Empat Pilar yang Menentukan Wajah Sebuah Desa

Setiap kali membicarakan kemajuan sebuah desa, pembicaraan sering berhenti di satu titik saja: siapa kepala desanya. Seolah baik-buruknya sebuah desa hanya ditentukan oleh satu orang di kursi tertinggi. Padahal, kalau kita amati desa yang benar-benar bergerak maju, hampir selalu ada empat unsur yang bekerja bersamaan, bukan satu unsur yang bekerja sendirian. Pertama, pemimpin yang ideal. Buku Desa terbitan Kementerian Desa PDTT menyebutkan ciri kepala desa yang baik: mendengar, mengayomi, tidak anti kritik, transparan, dan adil. Ini bukan daftar harapan yang berlebihan, ini kebutuhan dasar. Tanpa lima sifat ini, sebaik apa pun program yang dijalankan, kepercayaan masyarakat akan terus goyah. Kedua, tokoh yang dewasa. Desa membutuhkan orang-orang yang berani mengkritik, tapi dengan cara yang santun, dan yang senang menasihati tanpa merasa lebih tinggi. Buku yang sama menyebut anggota BPD yang baik harus berani, jujur, objektif, tidak mudah diintervensi, dan memahami aturan. Sifat ini...

KHUTBAH JUM'AT SERI 1-LARANGAN FANATIK

Khutbah & Kajian · Seri 1 Ada satu sikap yang terasa seperti sedang membela kebenaran, padahal yang sesungguhnya sedang dibela hanyalah golongan sendiri — dan Nabi ﷺ menegaskan, penyerunya bukan bagian dari umat beliau. Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأُخُوَّةِ وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالتَّعَصُّبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan...