Khutbah & Kajian · Seri 8
Ada orang yang capai luar biasa dalam beramal, tapi begitu tidak ada yang melihat, lelahnya terasa sia-sia — sebab yang ia kejar bukan ridha Allah, melainkan pandangan manusia.
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Amma ba'du. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, marilah kita renungkan bersama hakikat hidup kita di dunia ini.
Dunia Adalah Tempat Merantau, Akhirat Adalah Kampung Halaman
Ketahuilah, bahwa hakikat hidup kita di dunia ini laksana seorang perantau yang mencari penghidupan di negeri asing. Ia bekerja keras demi membawa bekal terbaik ketika kembali ke kampung halamannya. Begitu pula kita — dunia adalah tempat mengumpulkan bekal, dan kampung halaman kita yang sejati adalah akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir."
(HR. Bukhari)
Maka bekal yang kita butuhkan untuk pulang ke kampung halaman yang sejati itu adalah amal shalih yang diterima.
Amal Shalih Adalah Bekal Utama
Allah ﷻ berfirman dalam akhir Surah Al-Kahfi:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Maka barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan tidak mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Rabb-nya."
(QS. Al-Kahfi: 110)
Dua Syarat Diterimanya Amal
Ulama Tabi'in menjelaskan bahwa dalam ayat ini terdapat dua syarat utama diterimanya amal: ikhlas karena Allah — pada kalimat "wa laa yusyrik" — dan benar sesuai tuntunan Nabi ﷺ — pada kalimat "'amalan shaalihan". Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah menjelaskan makna amal shalih sebagai berikut:
أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ
"Yang paling ikhlas dan paling benar."
(Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah)
فَالْعَمَلُ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ، حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا
"Jika amal itu ikhlas tapi tidak benar (sesuai sunnah), tidak diterima. Dan jika benar tapi tidak ikhlas, juga tidak diterima — hingga amal itu ikhlas dan benar."
Makna Ikhlas dan Bahaya Riya
Ikhlas adalah beramal semata-mata karena Allah. Lawannya adalah riya. Sebagaimana dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah:
الرِّيَاءُ: أَنْ تَعْمَلَ عَمَلًا لِلَّهِ، وَلَٰكِنْ تُحِبَّ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
"Riya adalah engkau beramal untuk Allah, namun suka bila orang-orang melihatnya."
(Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah)
Artinya, kita mengerjakan perintah Allah, tetapi diam-diam suka atau berharap pujian manusia atas amal itu.
Riya: Racun dalam Bekal
Setelah kita bersusah payah beramal, bahaya besar yang mengancam amal kita adalah riya. Riya masuk dalam hati tanpa terasa, lalu mengotori amal hingga ditolak oleh Allah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al-Fawa'id bahwa amal yang dilakukan karena riya sesungguhnya tidak lelah karena Allah, melainkan karena manusia — sehingga saat tidak ada yang melihat, lelahnya pun terasa sia-sia. Beliau juga berkata:
وَلَا شَيْءَ أَفْسَدُ لِلْأَعْمَالِ مِنَ الرِّيَاءِ، فَإِنَّهُ يُحْبِطُ الْعَمَلَ، وَيُذْهِبُ أَجْرَهُ، وَيَجْعَلُ صَاحِبَهُ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Tidak ada yang lebih merusak amal selain riya. Ia membatalkan amal, menghilangkan pahala, dan menjadikan pelakunya orang yang merugi."
(Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah)
Ustadz Dr. Firanda Andirja menjelaskan bahwa riya bisa menyelinap ke dalam shalat, dakwah, sedekah, bahkan ilmu. Maka mujahadah melawannya harus dilakukan setiap saat agar amal tetap murni karena Allah, sebab amalan yang terkontaminasi riya akan tertolak meskipun tampak besar di mata manusia.
Dalil tentang Amal Riya yang Tertolak
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَازَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً؟
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya." Allah 'azza wa jalla akan berkata kepada mereka pada hari kiamat ketika membalas amal perbuatan manusia, "Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kalian ingin pamer di hadapan mereka di dunia, lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?"
(HR. Ahmad no. 23630, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Hadits ini menegaskan bahwa riya adalah syirik kecil yang sangat berbahaya. Riya membuat amal sia-sia karena tidak diniatkan untuk mencari ridha Allah. Ia adalah penghancur amal dari dalam.
Amal Riya Dibalas di Dunia, Tidak di Akhirat
Allah ﷻ berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
"Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami berikan kepada mereka balasan perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka tidak dirugikan."
(QS. Hud: 15)
Allah akan membalas semua amal, termasuk yang dilandasi riya, dengan keberhasilan duniawi — pujian, harta, ketenaran. Tapi di akhirat tak ada balasan sama sekali baginya. Para salaf dahulu justru menangis bila menerima balasan duniawi seketika setelah beramal. Mereka takut itu adalah pembayaran kontan dari Allah, yang berarti tidak akan ada lagi ganjaran di akhirat. Bandingkan dengan kita hari ini, yang justru merasa amal kita diterima Allah hanya karena ia sukses dan dipuji di dunia.
Karena itulah Rasulullah ﷺ mengajarkan doa perlindungan dari riya yang tersembunyi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dalam keadaan aku sadar, dan aku mohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku sadari."
(HR. Ahmad, Abu Dawud; shahih)
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
— khatib duduk sejenak —
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, marilah kita jadikan ikhlas sebagai penjaga pertama sebelum kita melangkah beramal, bukan renungan yang baru datang setelah amal selesai dikerjakan. Sebab ikhlas yang datang belakangan sering kali hanya menyesali, bukan lagi menyelamatkan.
Doa-Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَحُبِّ الظُّهُورِ
"Ya Allah, jadikanlah seluruh amal kami ikhlas semata karena wajah-Mu yang mulia, dan sucikanlah hati kami dari riya, sum'ah, dan cinta ketenaran."
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ وَالْأَكْبَرِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَنَحْنُ نَعْلَمُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ
"Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari syirik kecil maupun besar, dan kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dalam keadaan kami sadar, dan kami mohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami sadari."
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Komentar
Posting Komentar