Peradaban dibangun dengan iman. Negeri menjadi kokoh dengan ketakwaan. Masyarakat hidup tenteram karena kejujuran. Dan seluruhnya berdiri di atas satu tiang yang agung: amanah.
Khutbah Pertama
Amanah, Tiang Peradaban
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, ketahuilah, sesungguhnya kehidupan ini tidak ditegakkan dengan kekuatan semata. Tidak pula dengan banyaknya harta, luasnya kekuasaan, atau tingginya jabatan.
Peradaban dibangun dengan iman. Negeri menjadi kokoh dengan ketakwaan. Masyarakat hidup tenteram karena kejujuran. Dan seluruhnya berdiri di atas satu tiang yang agung, yaitu amanah.
Apabila amanah dijaga, Allah akan menjaga manusia. Apabila amanah dipelihara, Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi. Namun apabila amanah mulai diremehkan, maka kerusakan akan merambat perlahan. Ia tidak langsung merobohkan bangunan, tetapi terlebih dahulu merobohkan hati. Ia tidak langsung menghancurkan sebuah negeri, tetapi terlebih dahulu menghancurkan rasa takut kepada Allah.
Wahai hamba-hamba Allah, renungkanlah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang harta titipan. Bukan hanya tentang jabatan. Bukan hanya tentang kekuasaan. Tetapi seluruh amanah yang Allah bebankan kepada manusia: amanah seorang ayah kepada keluarganya, amanah seorang ibu kepada anak-anaknya, amanah seorang guru kepada murid-muridnya, amanah seorang pedagang kepada para pembelinya, amanah seorang pemimpin kepada rakyatnya, dan amanah setiap muslim kepada agamanya.
Karena itulah Rasulullah ﷺ menjadikan amanah sebagai ukuran keimanan seseorang. Tidaklah sempurna iman orang yang mengkhianati amanah, meskipun lisannya fasih mengucapkan syahadat dan tubuhnya rajin berdiri dalam shalat.
Kepemimpinan sebagai Beban, Bukan Kemuliaan
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Islam tidak pernah memandang kepemimpinan sebagai kemuliaan yang harus diperebutkan. Islam memandangnya sebagai beban yang akan dipertanggungjawabkan. Bukan sebagai kehormatan, tetapi sebagai hisab. Bukan sebagai kebanggaan, tetapi sebagai amanah.
Karena itu para ulama menjelaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar mengatur urusan dunia, melainkan menjaga agama Allah dan menegakkan keadilan di tengah manusia. Seluruh kebijakan seorang pemimpin pada hakikatnya harus bermuara kepada penjagaan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta manusia, sebagaimana tujuan agung syariat Islam.
Perubahan Dimulai dari Hati
Wahai kaum muslimin, lihatlah bagaimana Al-Qur'an mengajarkan kepada kita bahwa keadaan suatu masyarakat tidak pernah terlepas dari keadaan hati mereka. Allah Ta'ala berfirman:
Perhatikanlah. Allah tidak mengatakan bahwa perubahan dimulai dari istana. Allah tidak mengatakan bahwa perubahan dimulai dari pasar. Allah tidak mengatakan bahwa perubahan dimulai dari mimbar kekuasaan. Allah memulai perubahan dari qalbu manusia.
Jika hati dipenuhi iman, lahirlah kejujuran. Jika kejujuran hidup, lahirlah amanah. Jika amanah ditegakkan, lahirlah keadilan. Dan apabila keadilan tegak, keberkahan pun turun dari langit.
Sebaliknya, apabila hati dipenuhi ketamakan, lisan dipenuhi dusta, tangan terbiasa mengambil yang bukan haknya — maka janganlah heran apabila keberkahan dicabut. Janganlah heran apabila manusia kehilangan rasa saling percaya. Janganlah heran apabila perselisihan menjadi pemandangan setiap hari. Janganlah heran apabila doa-doa terasa berat menembus langit.
Lima Tanda Amanah yang Disia-siakan
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, oleh sebab itu Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan ibadah kepada umat ini. Beliau juga menjelaskan sebab-sebab datangnya hukuman Allah kepada suatu masyarakat. Musibah bukan sekadar fenomena alam — musibah sering kali merupakan teguran dari langit. Bencana bukan selalu karena bumi murka — sering kali ia merupakan peringatan agar manusia kembali kepada Rabb-nya.
Dalam sebuah hadits yang agung, Rasulullah ﷺ menyebutkan lima tanda yang apabila dilakukan oleh suatu kaum, maka berbagai hukuman Allah akan datang silih berganti. Hadits ini bukan hanya untuk dibaca, bukan sekadar untuk dihafal, tetapi untuk dijadikan cermin bagi diri kita masing-masing. Marilah kita dengarkan peringatan Nabi ﷺ dengan hati yang khusyuk, seakan-akan beliau sedang berbicara kepada kita pada hari ini.
Peringatan pertama: rusaknya kehormatan manusia. Beliau bersabda, apabila perbuatan keji telah dilakukan secara terang-terangan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka berbagai wabah dan penyakit yang belum pernah dikenal oleh generasi sebelumnya.
Perhatikanlah — Nabi ﷺ tidak mengatakan, "Jika mereka miskin." Tidak pula mengatakan, "Jika mereka lemah." Tetapi beliau berkata, ketika maksiat kehilangan rasa malu. Sebab selama dosa masih disembunyikan, hati masih hidup. Selama pelaku maksiat masih menangis, pintu taubat masih terbuka. Namun ketika dosa dipamerkan, kemaksiatan dijadikan hiburan, aurat dipertontonkan, kebohongan dipertahankan, dan kemungkaran dipuji sebagai kemajuan — maka ketahuilah, masyarakat sedang kehilangan benteng pertamanya, yaitu rasa malu kepada Allah. Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda:
Maka apabila rasa malu hilang, iman pun mulai melemah. Dan apabila iman melemah, keberkahan pun perlahan diangkat.
Peringatan kedua: hilangnya kejujuran dalam muamalah. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa apabila manusia mengurangi timbangan, mengurangi hak orang lain, dan berlaku curang dalam transaksi, Allah akan menimpakan kesempitan hidup dan menghadirkan pemimpin-pemimpin yang zalim.
Lihatlah betapa agung syariat Islam. Islam tidak memisahkan antara ibadah dan kejujuran. Shalat tanpa kejujuran tidak melahirkan keberkahan. Puasa tanpa amanah tidak menghadirkan ketenteraman. Karena Allah mencintai hamba yang jujur, sebagaimana Allah membenci setiap bentuk pengkhianatan. Ketahuilah, tidak ada harta yang bertambah karena kebohongan. Tidak ada negeri yang makmur karena suap. Tidak ada masyarakat yang kuat karena pengkhianatan. Barangkali harta bertambah, namun keberkahannya hilang. Barangkali jabatan diraih, namun ketenteraman dicabut. Barangkali manusia memuji, namun Allah murka.
Peringatan ketiga: ditahannya zakat. Ketika manusia enggan menunaikan hak-hak fakir miskin, Allah menahan hujan dari langit.
Renungkanlah — yang ditahan bukan hanya air, tetapi keberkahan. Yang dicabut bukan hanya hujan, tetapi kasih sayang Allah kepada suatu masyarakat. Betapa banyak manusia menghitung hartanya setiap hari, namun tidak pernah menghitung berapa hak orang miskin yang masih berada di dalam hartanya. Padahal setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap dirham akan ditanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan.
Peringatan keempat: mengkhianati perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya. Ketika syariat diabaikan, ketika petunjuk Rasulullah ﷺ ditinggalkan, ketika hawa nafsu lebih ditaati daripada wahyu — maka Allah membiarkan musuh-musuh menguasai sebagian urusan kaum muslimin.
Janganlah kita mengira bahwa kelemahan umat hanya disebabkan sedikitnya persenjataan. Kelemahan terbesar adalah lemahnya hubungan dengan Allah. Sebab kemenangan pertama kali turun dari langit, baru kemudian tampak di bumi.
Peringatan kelima — inilah peringatan yang paling mengguncang. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa apabila para pemimpin tidak lagi berhukum dengan petunjuk Allah, Allah akan menjadikan mereka saling berselisih dan saling bermusuhan. Mengapa demikian? Karena keadilan hanya lahir dari wahyu. Adapun hawa nafsu, ia tidak pernah mempersatukan — ia hanya memperebutkan kepentingan. Allah Ta'ala berfirman:
Maka janganlah kita hanya sibuk mencari pemimpin yang baik. Perbaikilah diri kita. Perbaikilah keluarga kita. Perbaikilah shalat kita. Perbaikilah amanah kita. Karena masyarakat yang bertakwa akan melahirkan pemimpin yang bertakwa.
Penutup: Yang Tersisa Hanyalah Amanah yang Kita Jaga
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, izinkan saya menutup khutbah ini dengan satu hadits yang mengguncang hati setiap mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda:
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana amanah itu disia-siakan?" Beliau menjawab:
Saudara-saudaraku seiman, hari ini manusia berlomba mengejar kedudukan — esok semua kedudukan ditinggalkan. Hari ini manusia membanggakan kekuasaan — esok kekuasaan tidak lagi menyelamatkan. Hari ini manusia dipuji — esok seluruh pujian terputus.
Yang tetap bersama kita hanyalah iman. Yang menyertai kita hanyalah amal. Dan yang akan menjadi saksi di hadapan Allah adalah amanah yang kita jaga atau yang kita khianati.
Maka bertakwalah kepada Allah sebelum datang hari ketika tidak berguna lagi harta, jabatan, keluarga, ataupun pengikut. Hari ketika setiap jiwa berdiri sendiri di hadapan Rabb semesta alam. Hari ketika timbangan amal ditegakkan. Hari ketika setiap pengkhianatan akan diperlihatkan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang jujur, menjaga amanah, mencintai keadilan, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Komentar
Posting Komentar