Ada dosa yang semalam ditutup rapat oleh Allah, lalu esok paginya dibongkar sendiri oleh pelakunya kepada orang lain — Rasulullah ﷺ menyebut ini bentuk paling nyata dari mujaharah, terang-terangan dalam berbuat dosa.
Khutbah Pertama
Jamaah Jum'at rahimakumullah, tidak ada satu pun anak Adam yang bersih dari salah dan dosa. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda:
Yang membedakan seorang hamba bukanlah pernah atau tidaknya ia berbuat dosa, melainkan apa yang ia lakukan setelahnya: bertaubat dan menutupnya, atau justru mengumbarnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan kasih sayang-Nya, seringkali menutupi aib dan dosa hamba-Nya dari pandangan manusia — bahkan sebelum hamba itu sempat memintanya.
Mujaharah: Ketika Dosa yang Sudah Ditutup Dibongkar Sendiri
Jamaah yang dirahmati Allah, justru di sinilah letak salah satu penyakit yang sering luput dari perhatian kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
Perhatikan, jamaah sekalian — hadits ini tidak berbicara tentang dosa itu sendiri, melainkan tentang apa yang dilakukan setelahnya. Allah sudah menutup rapat kesalahan itu semalaman, sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Tetapi pelakunya sendiri yang membongkarnya, seolah menolak tabir yang Allah berikan secara cuma-cuma. Inilah mujaharah — dan Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa seluruh umatnya akan dimaafkan, kecuali orang-orang yang justru menampakkan dosanya sendiri.
Konsekuensi Nyata dari Memamerkan Dosa
Jamaah rahimakumullah, bahaya mujaharah ini bukan sekadar teori. Dalam sejarah Islam, kita mengenal kisah Ma'iz bin Malik radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengaku telah berbuat zina. Yang menarik, jamaah sekalian, Rasulullah ﷺ tidak segera menerima pengakuannya. Beliau berpaling darinya sampai empat kali, seakan memberi kesempatan agar Ma'iz mengurungkan pengakuannya dan cukup bertaubat secara diam-diam antara dirinya dengan Allah. Namun Ma'iz bersikeras mengulang pengakuannya hingga empat kali pula, sampai akhirnya hukuman pun ditegakkan atasnya.
Para ulama menjelaskan, sikap Rasulullah ﷺ yang berpaling berkali-kali ini menunjukkan bahwa Islam sesungguhnya lebih menyukai seorang hamba menutup dosanya dan bertaubat secara pribadi, daripada mempublikasikannya — sekalipun dengan niat mengaku salah. Sebab begitu sebuah dosa dinyatakan secara terbuka dan berulang, konsekuensinya pun menjadi nyata dan tidak bisa ditarik kembali. Inilah salah satu bentuk "sanksi" yang ditimbulkan oleh sikap gemar memamerkan dosa: bukan hanya menodai kehormatan diri sendiri, tetapi juga bisa mendatangkan akibat yang sesungguhnya bisa dihindari andai dosa itu cukup disimpan sebagai rahasia antara hamba dan Rabb-nya.
Ketika Orang Tua Bercerita tentang Dosa Masa Mudanya
Jamaah yang dimuliakan Allah, ada satu bentuk mujaharah yang sering luput dari perhatian kita, sekalipun terasa sepele: kebiasaan sebagian orang tua atau orang yang lebih dahulu berumur, menceritakan dengan bangga kenakalan dan dosa-dosa masa mudanya kepada anak, cucu, atau generasi yang lebih muda. Entah itu kisah mabuk-mabukan, perkelahian, pergaulan bebas, atau kemaksiatan lain yang dahulu pernah dilakukan.
Mungkin niatnya sekadar bernostalgia, atau merasa cerita itu lucu untuk dikenang. Namun jamaah sekalian, renungkanlah dampaknya: generasi muda yang mendengarnya bisa kehilangan panutan. Sosok yang seharusnya menjadi teladan justru menampakkan sisi kelamnya sendiri, dan tanpa disadari, cerita itu bisa menanamkan kesan bahwa dosa adalah hal yang wajar, bahkan bisa dibanggakan setelah lewat masanya. Anak dan generasi berikutnya pun menjadi semakin tidak malu untuk mengikuti jejak yang sama, karena mereka melihat sosok yang mereka hormati pun pernah — dan tampak baik-baik saja — melakukannya.
Padahal, jamaah rahimakumullah, jika dosa masa muda itu sudah ditutup Allah, dan taubat sudah dilakukan, maka biarlah ia menjadi rahasia antara diri kita dengan Allah. Yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya bukanlah kisah kelamnya, melainkan buah dari taubat itu sendiri: keteladanan hidup yang lebih baik, nasihat yang menyejukkan, dan sikap yang menjauhkan mereka dari kesalahan yang sama — bukan justru membukakan jalan bagi mereka untuk mengulanginya.
Pelajaran dari Layar Kaca
Jamaah sekalian, prinsip ini sesungguhnya juga dipahami di luar konteks agama. Penulis pernah menyaksikan sebuah tayangan televisi nasional, ketika seorang ahli kriminologi diminta menjelaskan detail kronologi sebuah kasus pembunuhan yang sempat viral beberapa tahun silam. Alih-alih menjawab rinci sebagaimana diminta pembawa acara, sang ahli justru balik menegur, bahwa hal seperti itu tidak sepatutnya dibedah sedetail itu di siaran terbuka. Ada kesadaran bahwa memaparkan kejahatan secara gamblang dan rinci bukan mendidik, melainkan berisiko menjadi contoh yang justru bisa ditiru oleh pihak yang berniat jahat.
Jamaah yang dirahmati Allah, jika seorang ahli sekuler saja memahami bahaya mempertontonkan kejahatan secara rinci, semestinya kita sebagai muslim jauh lebih peka terhadap prinsip yang sama — bahkan Islam telah mengajarkannya empat belas abad yang lampau, dalam bentuk larangan mujaharah, jauh sebelum ilmu-ilmu sosial modern merumuskannya.
Maka, jamaah sekalian, marilah kita jujur bermuhasabah: sudahkah kita menjaga rahasia yang Allah tutupkan atas diri kita? Ataukah kita justru menjadi orang yang, dengan lisan sendiri, membuka kembali apa yang telah Allah tutup — lalu mewariskannya sebagai cerita yang justru merusak generasi setelah kita?
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menutupi aib-aib kita di dunia dan akhirat, dan menjadikan kita hamba yang pandai menjaga rahasia antara diri kita dengan-Nya.
Khutbah Kedua
Jamaah Jum'at rahimakumullah, sebagai penutup, mari kita ingat sabda Rasulullah ﷺ tentang keutamaan menutup aib sesama:
Jika menutup aib orang lain saja berpahala sebesar ini, maka menjaga aib diri sendiri yang telah Allah tutupi — dengan tidak mengumbarnya kembali — tentu jauh lebih utama untuk kita jaga.
Komentar
Posting Komentar