Langsung ke konten utama

KHUTBAH JUM'AT SERI 15: 5 OBAT HATI

Khutbah & Kajian · Seri 15

Setelah tahu kenapa iman bisa naik-turun tanpa disadari — karena siapa yang kita gauli — pertanyaan berikutnya adalah: lalu apa obatnya?

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي يُقَلِّبُ الْقُلُوبَ وَالْأَبْصَارَ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Jamaah Jum'at rahimakumullah, beberapa waktu lalu kita telah membahas mengapa iman seseorang bisa naik dan turun tanpa ia sadari — bahwa siapa yang paling sering kita temani akan mewarnai agama dan istiqomah ibadah kita. Kita pun sudah mengenal empat kategori pergaulan: teman seperti makanan pokok, teman seperti obat, teman seperti penyakit, dan teman seperti racun.

Namun, jamaah sekalian, mengetahui sebab sakitnya hati saja tidak cukup. Setelah tahu penyakitnya, kita butuh obatnya. Hari ini kita akan membahas lima perkara yang oleh para ulama disebut sebagai obat hati — penawar bagi hati yang keras, lalai, dan mudah goyah imannya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga hati:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, jamaah yang dirahmati Allah, marilah kita kenali lima obat hati ini satu per satu.

Pertama: Membaca Al-Qur'an dengan Tadabbur

Bukan sekadar melafalkan huruf, melainkan merenungi maknanya. Allah ﷻ berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Al-Isra': 82)

Dan Allah menegur hati yang membaca tanpa merenungi:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
"Maka tidakkah mereka merenungkan Al-Qur'an, ataukah hati mereka sudah terkunci?"
(QS. Muhammad: 24)

Hati yang jarang disentuh Al-Qur'an lambat laun mengeras, sebagaimana besi yang jarang dipoles akan berkarat.

Kedua: Melaksanakan Shalat Malam

Qiyamul lail adalah waktu di mana hati paling mudah dibersihkan, karena dunia sedang lelap dan hanya Allah yang menyaksikan. Allah ﷻ berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
(QS. Al-Isra': 79)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
"Sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam."
(HR. Muslim)

Ketiga: Berkumpul dengan Orang-Orang Saleh

Inilah obat yang langsung menyambung dengan yang pernah kita bahas, jamaah sekalian. Kalau pergaulan yang buruk adalah salah satu penyebab imannya seseorang goyah, maka wajar bila pergaulan yang baik menjadi salah satu obat untuk memulihkannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْءُ عَلَىٰ دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
"Seseorang itu bergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat."
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, hasan)

Duduk di majelis ilmu, dekat dengan orang-orang yang mengingatkan kita kepada Allah — itulah salah satu jalan paling efektif untuk mengembalikan iman yang sempat kendur.

Keempat: Memperbanyak Puasa

Puasa melatih pengendalian diri dan melunakkan hati yang keras karena terlalu dimanjakan hawa nafsu. Rasulullah ﷺ bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ
"Puasa itu adalah perisai."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perisai yang melindungi hati dari serangan syahwat dan syubhat yang setiap hari menggempurnya.

Kelima: Memperbanyak Dzikir kepada Allah

Inilah penutup dan pengikat dari empat obat sebelumnya. Allah ﷻ berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)

Jamaah rahimakumullah, membaca Al-Qur'an dengan tadabbur, shalat malam, bergaul dengan orang saleh, memperbanyak puasa, dan memperbanyak dzikir — lima perkara ini bukan sekadar amalan sunnah biasa, melainkan resep yang diwariskan para ulama untuk hati yang sakit. Tidak harus dilakukan sekaligus semua dan sempurna. Mulailah dari satu yang paling ringan bagi kita, lalu rawat sedikit demi sedikit, sebagaimana obat yang diminum teratur, bukan sekali telan lalu berhenti.

Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang hidup, yang selalu rindu untuk diobati dan diperbaiki, bukan hati yang membiarkan dirinya terus mengeras.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
— khatib duduk sejenak —

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

Doa-Doa

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَدَبَّرُ الْقُرْآنَ وَيَقُومُ اللَّيْلَ وَيَصْحَبُ الصَّالِحِينَ
"Ya Allah, Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang merenungi Al-Qur'an, mendirikan shalat malam, dan bersahabat dengan orang-orang saleh."
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Kebenaran yang Asing Disambut dengan Amarah

"Kesabaran seseorang sering kali sebanding dengan kadar keikhlasannya." Ada satu fenomena yang berulang kali saya saksikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin asing sebuah kebenaran di telinga seseorang, semakin besar kemungkinan ia disambut bukan dengan rasa ingin tahu, tetapi dengan penolakan, bahkan kemarahan. Padahal, sesuatu yang belum pernah kita dengar tidak otomatis berarti salah. Ia hanya menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang persoalan itu belum sampai ke sana. Belum lama ini saya mengalami sebuah peristiwa yang menurut saya sangat menggambarkan fenomena tersebut. Sore itu saya melaksanakan shalat Ashar berjamaah di masjid lain. Ketika tiba di masjid tempat saya biasa shalat Magrib, beberapa jamaah menghampiri saya setelah salam. Mereka meminta penjelasan mengenai kejadian yang terjadi pada shalat Ashar. Mereka bercerita bahwa pada tahiyat akhir imam membaca doa setelah tasyahud agak panjang. Pada saat yang sama, salah seorang makmum ternyata memili...

Empat Pilar yang Menentukan Wajah Sebuah Desa

Setiap kali membicarakan kemajuan sebuah desa, pembicaraan sering berhenti di satu titik saja: siapa kepala desanya. Seolah baik-buruknya sebuah desa hanya ditentukan oleh satu orang di kursi tertinggi. Padahal, kalau kita amati desa yang benar-benar bergerak maju, hampir selalu ada empat unsur yang bekerja bersamaan, bukan satu unsur yang bekerja sendirian. Pertama, pemimpin yang ideal. Buku Desa terbitan Kementerian Desa PDTT menyebutkan ciri kepala desa yang baik: mendengar, mengayomi, tidak anti kritik, transparan, dan adil. Ini bukan daftar harapan yang berlebihan, ini kebutuhan dasar. Tanpa lima sifat ini, sebaik apa pun program yang dijalankan, kepercayaan masyarakat akan terus goyah. Kedua, tokoh yang dewasa. Desa membutuhkan orang-orang yang berani mengkritik, tapi dengan cara yang santun, dan yang senang menasihati tanpa merasa lebih tinggi. Buku yang sama menyebut anggota BPD yang baik harus berani, jujur, objektif, tidak mudah diintervensi, dan memahami aturan. Sifat ini...

KHUTBAH JUM'AT SERI 1-LARANGAN FANATIK

Khutbah & Kajian · Seri 1 Ada satu sikap yang terasa seperti sedang membela kebenaran, padahal yang sesungguhnya sedang dibela hanyalah golongan sendiri — dan Nabi ﷺ menegaskan, penyerunya bukan bagian dari umat beliau. Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأُخُوَّةِ وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالتَّعَصُّبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan...