Langsung ke konten utama

KHUTBAH JUM'AT SERI 16: 4 GOLONGAN MANUSIA TERHADAP HARTA

Khutbah & Kajian · Seri 16

Rasulullah ﷺ pernah membuat perumpamaan: umat ini seperti empat orang saja — dan yang membedakan mereka bukan berapa banyak harta yang mereka punya, melainkan apa yang mereka lakukan dengan apa yang Allah titipkan.

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Jamaah Jum'at rahimakumullah, sering kali kita menyangka bahwa yang membedakan derajat manusia adalah banyak-sedikitnya harta yang ia miliki. Padahal, jamaah sekalian, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sebuah perumpamaan yang jauh lebih dalam dari sekadar kaya-miskin. Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu 'anhu, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مَثَلُ أَرْبَعَةِ نَفَرٍ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا، فَهُوَ يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ فِي مَالِهِ يُنْفِقُهُ فِي حَقِّهِ. وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يُؤْتِهِ مَالًا، فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مِثْلَ هَذَا لَعَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ، فَهُمَا فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ. وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يُؤْتِهِ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ، لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا. وَرَجُلٌ لَمْ يُؤْتِهِ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا، فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مِثْلَ هَذَا لَعَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ، فَهُمَا فِي الْوِزْرِ سَوَاءٌ
"Perumpamaan umat ini seperti empat orang: seorang laki-laki yang Allah beri harta dan ilmu, maka ia beramal dengan ilmunya pada hartanya, ia infakkan pada haknya. Seorang laki-laki yang Allah beri ilmu namun tidak diberi harta, maka ia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta seperti orang itu, niscaya aku akan beramal sepertinya' — maka keduanya sama dalam pahala. Seorang laki-laki yang Allah beri harta namun tidak diberi ilmu, maka ia menghambur-hamburkan hartanya tanpa ilmu, tidak bertakwa kepada Rabb-nya padanya, tidak menyambung silaturahim dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah padanya. Dan seorang laki-laki yang tidak diberi Allah harta maupun ilmu, maka ia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta seperti orang itu, niscaya aku akan beramal sepertinya' — maka keduanya sama dalam dosa."
(HR. Tirmidzi no. 2325, dinilai hasan)

Jamaah yang dirahmati Allah, mari kita renungkan keempat golongan ini satu per satu.

Golongan Pertama: Diberi Harta dan Ilmu, lalu Beramal dengan Keduanya

Inilah golongan paling utama — ia memiliki harta, dan ia juga memiliki ilmu tentang bagaimana Allah ingin harta itu digunakan. Maka ia infakkan hartanya di jalan yang benar: zakat ditunaikan, sedekah dikeluarkan, hak kerabat dan tetangga dipenuhi. Harta di tangannya menjadi alat ibadah, bukan beban dosa.

Golongan Kedua: Diberi Ilmu tapi Tidak Diberi Harta

Golongan ini miskin secara materi, namun hatinya lurus. Ia tahu persis bagaimana seharusnya harta digunakan andai ia memilikinya, dan ia berniat sungguh-sungguh akan berbuat seperti golongan pertama jika Allah memberinya kesempatan. Maka Rasulullah ﷺ menegaskan: pahalanya setara dengan golongan pertama — sebab Allah menilai niat yang tulus, bukan hanya hasil yang tampak.

Golongan Ketiga: Diberi Harta tapi Tidak Diberi Ilmu

Inilah golongan yang berbahaya. Hartanya melimpah, tapi ia tidak tahu — atau tidak peduli — bagaimana Allah ingin harta itu dikelola. Ia habiskan tanpa arah, tidak takut kepada Allah dalam membelanjakannya, memutus silaturahim demi harta, dan lupa bahwa di dalam hartanya ada hak orang lain yang wajib ditunaikan.

Golongan Keempat: Tidak Diberi Harta maupun Ilmu

Golongan ini miskin secara materi dan juga rusak niatnya. Sama seperti golongan kedua berniat baik meski tidak punya harta, golongan keempat ini justru berniat buruk: ia berandai-andai ingin menghambur-hamburkan harta sebagaimana golongan ketiga, seandainya ia memilikinya. Maka Rasulullah ﷺ menegaskan: dosanya setara dengan golongan ketiga — sebab niat yang rusak pun dicatat sebagai dosa, sekalipun belum sempat terlaksana.

Jamaah sekalian, perhatikan betapa adilnya timbangan Allah dalam hadits ini. Yang menentukan pahala dan dosa bukan semata apa yang kita miliki, melainkan apa yang ada di dalam hati kita terhadap apa yang kita miliki — atau yang kita andaikan seandainya kita memilikinya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ
— khatib duduk sejenak —

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

Empat Wajah Dunia dan Akhirat

Ma'asyiral muslimin, dari perumpamaan tadi, sebagian ulama menjelaskan pelajaran serupa dari sisi yang lain: manusia terbagi empat, dipandang dari kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Ada yang susah di dunia dan sengsara pula di akhirat — inilah yang paling merugi. Ada yang senang di dunia namun sengsara di akhirat — menikmati harta tanpa arah seperti golongan ketiga tadi, lalai dari Allah selama hidupnya. Ada pula yang susah di dunia namun berbahagia di akhirat — diuji dengan kesempitan, namun sabar dan tetap taat. Dan yang paling utama, ada yang dunia dan akhiratnya sama-sama indah baginya — dialah orang berilmu yang saleh, yang hartanya menjadi ladang pahala sebagaimana golongan pertama dalam hadits tadi.

Allah ﷻ menggambarkan dua kelompok manusia dalam hal ini:

فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ. وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Maka di antara manusia ada yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia,' padahal tidak ada bagian baginya di akhirat. Dan di antara mereka ada yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka.'"
(QS. Al-Baqarah: 200-201)

Maka, jamaah sekalian, marilah kita jujur bertanya kepada diri sendiri: golongan manakah kita — dalam memandang harta, dan dalam apa yang sesungguhnya kita minta dari Allah untuk hidup kita?

Doa-Doa

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا نَعْمَلُ بِهِ فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يُخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ
"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, yang dengannya kami beramal pada apa yang Engkau rezekikan, dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang yang menghambur-hamburkan hartanya tanpa ilmu."
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Kebenaran yang Asing Disambut dengan Amarah

"Kesabaran seseorang sering kali sebanding dengan kadar keikhlasannya." Ada satu fenomena yang berulang kali saya saksikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin asing sebuah kebenaran di telinga seseorang, semakin besar kemungkinan ia disambut bukan dengan rasa ingin tahu, tetapi dengan penolakan, bahkan kemarahan. Padahal, sesuatu yang belum pernah kita dengar tidak otomatis berarti salah. Ia hanya menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang persoalan itu belum sampai ke sana. Belum lama ini saya mengalami sebuah peristiwa yang menurut saya sangat menggambarkan fenomena tersebut. Sore itu saya melaksanakan shalat Ashar berjamaah di masjid lain. Ketika tiba di masjid tempat saya biasa shalat Magrib, beberapa jamaah menghampiri saya setelah salam. Mereka meminta penjelasan mengenai kejadian yang terjadi pada shalat Ashar. Mereka bercerita bahwa pada tahiyat akhir imam membaca doa setelah tasyahud agak panjang. Pada saat yang sama, salah seorang makmum ternyata memili...

Empat Pilar yang Menentukan Wajah Sebuah Desa

Setiap kali membicarakan kemajuan sebuah desa, pembicaraan sering berhenti di satu titik saja: siapa kepala desanya. Seolah baik-buruknya sebuah desa hanya ditentukan oleh satu orang di kursi tertinggi. Padahal, kalau kita amati desa yang benar-benar bergerak maju, hampir selalu ada empat unsur yang bekerja bersamaan, bukan satu unsur yang bekerja sendirian. Pertama, pemimpin yang ideal. Buku Desa terbitan Kementerian Desa PDTT menyebutkan ciri kepala desa yang baik: mendengar, mengayomi, tidak anti kritik, transparan, dan adil. Ini bukan daftar harapan yang berlebihan, ini kebutuhan dasar. Tanpa lima sifat ini, sebaik apa pun program yang dijalankan, kepercayaan masyarakat akan terus goyah. Kedua, tokoh yang dewasa. Desa membutuhkan orang-orang yang berani mengkritik, tapi dengan cara yang santun, dan yang senang menasihati tanpa merasa lebih tinggi. Buku yang sama menyebut anggota BPD yang baik harus berani, jujur, objektif, tidak mudah diintervensi, dan memahami aturan. Sifat ini...

KHUTBAH JUM'AT SERI 1-LARANGAN FANATIK

Khutbah & Kajian · Seri 1 Ada satu sikap yang terasa seperti sedang membela kebenaran, padahal yang sesungguhnya sedang dibela hanyalah golongan sendiri — dan Nabi ﷺ menegaskan, penyerunya bukan bagian dari umat beliau. Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأُخُوَّةِ وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالتَّعَصُّبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan...