Khutbah & Kajian · Seri 17
Seorang sahabat mulia menangis di ranjang kematiannya — bukan karena sakit, bukan karena cinta dunia, tetapi karena merasa belum sempurna mengamalkan satu wasiat Nabi ﷺ tentang cukup dengan yang sedikit.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Jamaah Jum'at rahimakumullah, pekan lalu kita telah membahas empat golongan manusia dalam memandang harta dan ilmu. Hari ini kita akan membahas satu sikap hati yang menjadi penyempurna dari semua itu: qana'ah — rela dan cukup dengan apa yang Allah berikan.
Mengadu kepada Allah, Bukan kepada Manusia
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِاللَّهِ فَيُوشِكُ اللَّهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ
"Barangsiapa yang ditimpa kefakiran lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka kefakirannya tidak akan tertutup. Dan barangsiapa yang ditimpa kefakiran lalu ia mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan segera memberinya rezeki, baik yang cepat maupun yang tertunda."
(HR. Tirmidzi no. 2326, hasan shahih gharib)
Jamaah sekalian, hadits ini bukan berarti kita dilarang meminta bantuan dalam keadaan darurat, atau dilarang berikhtiar mencari nafkah. Yang dipersoalkan adalah ke mana hati kita bersandar saat kesempitan datang: kepada manusia yang serba terbatas, ataukah kepada Allah yang Maha Kaya. Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu."
(QS. At-Talaq: 3)
Orang yang mengadu kepada manusia biasanya pulang dengan rasa hina — kalaupun diberi, kebutuhannya jarang benar-benar terpenuhi, sebab manusia memiliki keterbatasan. Sebaliknya, orang yang mengadu kepada Allah akan pulang dengan hati yang tenang, sebab ia sedang bersandar kepada Dzat yang tidak pernah kehabisan.
Wasiat Nabi ﷺ yang Ditangisi Abu Hasyim bin 'Utbah
Jamaah rahimakumullah, ada satu kisah yang sangat menyentuh dari kalangan sahabat tentang makna cukup ini. Abu Wail menceritakan: Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu datang menjenguk pamannya, Abu Hasyim bin 'Utbah radhiyallahu 'anhu, yang saat itu sedang sakit menjelang wafat. Mu'awiyah bertanya, "Wahai paman, mengapa engkau menangis? Apakah karena sakit yang menyengatmu, atau karena keinginan terhadap dunia?"
Abu Hasyim menjawab, "Keduanya tidak. Namun Rasulullah ﷺ telah berwasiat kepadaku dengan suatu wasiat yang belum aku amalkan dengan sempurna." Wasiat itu adalah:
يَكْفِيكَ مِنَ الْجَمْعِ خَادِمٌ وَمَرْكَبٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Cukuplah bagimu dari mengumpulkan harta itu seorang pelayan dan satu kendaraan di jalan Allah."
(HR. Tirmidzi no. 2327, dari Abu Wail, dari Abu Hasyim bin 'Utbah radhiyallahu 'anhu)
Abu Hasyim melanjutkan, "Dan baru hari ini aku dapati diriku telah mengumpulkan lebih dari itu." Beliau menangis, jamaah sekalian, bukan karena berdosa besar, bukan pula karena takut mati — melainkan karena merasa dirinya belum sepenuhnya menaati satu petunjuk Nabi ﷺ tentang kesederhanaan.
Khadim (pelayan yang membantu kebutuhan hidup) dan markab fi sabilillah (kendaraan untuk berjuang di jalan Allah, baik untuk jihad, menuntut ilmu, maupun keperluan ibadah) — inilah standar "cukup" yang Rasulullah ﷺ ajarkan. Bukan berarti haram memiliki lebih dari itu, sebab Islam tidak melarang harta. Namun standar ini mengajarkan kita untuk tidak menjadikan penumpukan harta sebagai tujuan hidup, sementara kebutuhan pokok yang wajar sudah tercukupi.
Makna Zuhud yang Sesungguhnya
Jamaah yang dirahmati Allah, jangan sampai kita salah paham bahwa zuhud berarti hidup serba kekurangan dan menjauhi harta. Al-Hasan Al-Bashir rahimahullah menjelaskan dengan sangat jernih:
"Demi Allah, bukanlah zuhud itu mengharamkan yang halal, bukan pula menyia-nyiakan harta. Tetapi zuhud adalah engkau lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu."
(Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah)
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, ketika ditanya tentang zuhud, menjawab dengan ringkas:
"Zuhud adalah pendeknya angan-angan."
(Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah)
Artinya, seseorang tidak menghabiskan hidupnya untuk berangan-angan panjang tentang dunia, sehingga ia lupa mempersiapkan bekal akhirat. Bukan miskin hartanya yang dituntut, melainkan hati yang tidak diperbudak oleh apa yang ia miliki maupun apa yang belum ia miliki.
Maka, jamaah sekalian, marilah kita jujur bermuhasabah: ketika kesempitan datang, ke mana kita lebih dulu mengadu? Dan ketika kelapangan datang, apakah hati kita tetap yakin bahwa yang di sisi Allah jauh lebih baik daripada yang ada di tangan kita?
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ
— khatib duduk sejenak —
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, Rasulullah ﷺ menutup persoalan kaya dan miskin ini dengan satu kalimat yang meruntuhkan seluruh ukuran duniawi kita:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
"Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan hati."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Doa-Doa
اللَّهُمَّ اقْنِعْنَا بِمَا رَزَقْتَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيهِ، وَاخْلُفْ عَلَى كُلِّ غَائِبَةٍ لَنَا بِخَيْرٍ
"Ya Allah, jadikanlah kami merasa cukup dengan apa yang Engkau rezekikan kepada kami, berkahilah kami padanya, dan gantilah setiap yang luput dari kami dengan kebaikan."
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ إِلَّا إِلَيْكَ
"Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan hati, dan kami berlindung kepada-Mu dari kefakiran kecuali kefakiran (butuh) kepada-Mu semata."
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Komentar
Posting Komentar