Ada satu surah pendek yang sering kita baca dalam shalat, tapi jarang benar-benar kita renungkan maknanya — sampai ia menampar diri sendiri lebih dulu, sebelum sempat menampar orang lain.
Khutbah Pertama
Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala — takwa yang tidak hanya tampak ketika ada yang melihat, tetapi tertanam dalam hati sekalipun kita sedang sendirian. Sebab Allah Maha Mengetahui yang tersembunyi di balik setiap amal yang kita perbuat.
Fenomena yang Kita Hadapi
Jamaah yang dirahmati Allah, dalam kehidupan beragama sehari-hari — baik dalam ibadah, kegiatan sosial keagamaan, maupun aktivitas kemasyarakatan di tengah desa kita — sering muncul satu penyakit hati yang tampak seperti kebaikan, namun sesungguhnya kosong nilainya di sisi Allah. Penyakit itu adalah beragama sekadar pencitraan: amal yang tampak saleh di permukaan, ramai dibicarakan dan dipuji, namun niatnya bukan karena Allah, melainkan supaya dilihat dan dianggap baik oleh manusia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan potret orang semacam ini dengan sangat gamblang dalam sebuah surah pendek yang sering kita baca dalam shalat, namun jarang benar-benar kita renungkan maknanya:
Ayat ini dibuka dengan pertanyaan yang menohok: siapakah sebenarnya orang yang mendustakan agama? Jawabannya bukan orang yang terang-terangan menolak Islam, melainkan orang yang mengaku beragama namun perilakunya kosong dari substansi. Bahkan, jamaah sekalian, ayat ini menyebut orang yang shalat sekalipun bisa termasuk golongan ini — apabila shalatnya lalai dari maknanya dan ibadahnya penuh riya'.
Lima Ciri Beragama Pencitraan
Pertama, menghardik anak yatim — bersikap kasar atau acuh kepada mereka yang lemah dan tak berdaya membela diri, padahal merekalah yang paling membutuhkan uluran tangan. Kedua, tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin — bukan sekadar tidak memberi, tetapi juga tidak peduli dan tidak menggerakkan orang lain untuk peduli. Ketiga, shalat namun lalai dari hakikatnya — rajin secara ritual, tetapi shalatnya tidak membekas mencegah dari perbuatan keji dan mungkar dalam kesehariannya. Keempat, riya' — beribadah dan berbuat baik supaya dilihat dan dipuji manusia, bukan karena mengharap ridha Allah. Kelima, enggan menolong dengan al-mā'ūn, yaitu barang-barang keperluan sehari-hari yang lazim dipinjam-pinjamkan antartetangga — pertolongan paling sederhana yang bahkan tidak membutuhkan biaya besar, namun justru itulah yang paling dipelit-pelitkan.
Jamaah rahimakumullah, yang mengerikan dari surah ini adalah kelima ciri tersebut bisa melekat pada orang yang tampak taat beragama. Bukan orang yang terang-terangan meninggalkan shalat atau menolak agama, melainkan orang yang menjadikan agama sebagai kulit tanpa isi — rajin di permukaan, namun kosong ketika tidak ada yang melihat.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memperingatkan umatnya dari bahaya ini dengan sabda yang sangat tegas:
Hadits ini adalah ancaman yang sangat keras, jamaah sekalian. Siapa yang beramal supaya didengar dan dilihat manusia, maka pada akhirnya Allah pula yang akan membuka hakikat amalnya di hadapan manusia — bukan pujian yang ia dapatkan, melainkan keterbukaan aib yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kesalehan. Maka semakin besar sebuah amal dipertontonkan demi pencitraan, semakin besar pula risiko ia kehilangan pahalanya di sisi Allah, sementara di hadapan manusia pun cepat atau lambat kepalsuannya akan tersingkap.
Maka, jamaah yang dimuliakan Allah, marilah kita jujur bermuhasabah: sudahkah amal-amal kita — shalat kita, sedekah kita, kepedulian sosial kita — kita lakukan karena Allah, ataukah sekadar supaya dilihat dan dipuji orang lain? Islam mengajarkan kita untuk menata ulang niat sebelum menata amal, sebab amal sebesar apa pun tidak bernilai di sisi Allah apabila niatnya telah rusak oleh riya'.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membersihkan hati kita dari pencitraan, dan menjadikan setiap amal kita murni karena mengharap ridha-Nya semata.
Komentar
Posting Komentar