Langsung ke konten utama

KHUTBAH JUM'AT — SERI 4: WASPADA PENCITRAAN DALAM BERAGAMA

Khutbah & Kajian · Seri 4

Ada satu surah pendek yang sering kita baca dalam shalat, tapi jarang benar-benar kita renungkan maknanya — sampai ia menampar diri sendiri lebih dulu, sebelum sempat menampar orang lain.

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala — takwa yang tidak hanya tampak ketika ada yang melihat, tetapi tertanam dalam hati sekalipun kita sedang sendirian. Sebab Allah Maha Mengetahui yang tersembunyi di balik setiap amal yang kita perbuat.

Fenomena yang Kita Hadapi

Jamaah yang dirahmati Allah, dalam kehidupan beragama sehari-hari — baik dalam ibadah, kegiatan sosial keagamaan, maupun aktivitas kemasyarakatan di tengah desa kita — sering muncul satu penyakit hati yang tampak seperti kebaikan, namun sesungguhnya kosong nilainya di sisi Allah. Penyakit itu adalah beragama sekadar pencitraan: amal yang tampak saleh di permukaan, ramai dibicarakan dan dipuji, namun niatnya bukan karena Allah, melainkan supaya dilihat dan dianggap baik oleh manusia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan potret orang semacam ini dengan sangat gamblang dalam sebuah surah pendek yang sering kita baca dalam shalat, namun jarang benar-benar kita renungkan maknanya:

أَرَءَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣﴾ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ الَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ ﴿٦﴾ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ﴿٧﴾
"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan."
(QS. Al-Ma'un [107]: 1–7)

Ayat ini dibuka dengan pertanyaan yang menohok: siapakah sebenarnya orang yang mendustakan agama? Jawabannya bukan orang yang terang-terangan menolak Islam, melainkan orang yang mengaku beragama namun perilakunya kosong dari substansi. Bahkan, jamaah sekalian, ayat ini menyebut orang yang shalat sekalipun bisa termasuk golongan ini — apabila shalatnya lalai dari maknanya dan ibadahnya penuh riya'.

Lima Ciri Beragama Pencitraan

Pertama, menghardik anak yatim — bersikap kasar atau acuh kepada mereka yang lemah dan tak berdaya membela diri, padahal merekalah yang paling membutuhkan uluran tangan. Kedua, tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin — bukan sekadar tidak memberi, tetapi juga tidak peduli dan tidak menggerakkan orang lain untuk peduli. Ketiga, shalat namun lalai dari hakikatnya — rajin secara ritual, tetapi shalatnya tidak membekas mencegah dari perbuatan keji dan mungkar dalam kesehariannya. Keempat, riya' — beribadah dan berbuat baik supaya dilihat dan dipuji manusia, bukan karena mengharap ridha Allah. Kelima, enggan menolong dengan al-mā'ūn, yaitu barang-barang keperluan sehari-hari yang lazim dipinjam-pinjamkan antartetangga — pertolongan paling sederhana yang bahkan tidak membutuhkan biaya besar, namun justru itulah yang paling dipelit-pelitkan.

Jamaah rahimakumullah, yang mengerikan dari surah ini adalah kelima ciri tersebut bisa melekat pada orang yang tampak taat beragama. Bukan orang yang terang-terangan meninggalkan shalat atau menolak agama, melainkan orang yang menjadikan agama sebagai kulit tanpa isi — rajin di permukaan, namun kosong ketika tidak ada yang melihat.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memperingatkan umatnya dari bahaya ini dengan sabda yang sangat tegas:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
"Barangsiapa memperdengarkan amalnya (agar didengar orang), maka Allah akan memperdengarkan (aibnya di hadapan manusia), dan barangsiapa berbuat riya (agar dilihat orang), maka Allah akan memperlihatkan (hakikatnya di hadapan manusia)."
(HR. Bukhari No. 6499, Muslim No. 2987)

Hadits ini adalah ancaman yang sangat keras, jamaah sekalian. Siapa yang beramal supaya didengar dan dilihat manusia, maka pada akhirnya Allah pula yang akan membuka hakikat amalnya di hadapan manusia — bukan pujian yang ia dapatkan, melainkan keterbukaan aib yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kesalehan. Maka semakin besar sebuah amal dipertontonkan demi pencitraan, semakin besar pula risiko ia kehilangan pahalanya di sisi Allah, sementara di hadapan manusia pun cepat atau lambat kepalsuannya akan tersingkap.

Maka, jamaah yang dimuliakan Allah, marilah kita jujur bermuhasabah: sudahkah amal-amal kita — shalat kita, sedekah kita, kepedulian sosial kita — kita lakukan karena Allah, ataukah sekadar supaya dilihat dan dipuji orang lain? Islam mengajarkan kita untuk menata ulang niat sebelum menata amal, sebab amal sebesar apa pun tidak bernilai di sisi Allah apabila niatnya telah rusak oleh riya'.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membersihkan hati kita dari pencitraan, dan menjadikan setiap amal kita murni karena mengharap ridha-Nya semata.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ
— khatib duduk sejenak —

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

Doa-Doa

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ
"Ya Allah, sucikanlah hati kami dari riya dan sum'ah, dan jadikanlah seluruh amal kami ikhlas semata karena wajah-Mu yang mulia."
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَعْمَلُ لِلدُّنْيَا وَيَنْسَى الْآخِرَةَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُخْفِي عَمَلَهُ الصَّالِحَ رَجَاءَ أَنْ لَا يَطَّلِعَ عَلَيْهِ أَحَدٌ سِوَاكَ
"Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang yang beramal untuk dunia dan lupa akhirat, dan jadikanlah kami termasuk orang yang menyembunyikan amal salehnya, berharap tidak ada yang mengetahuinya selain Engkau."
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)

📥 Butuh naskah ini untuk khutbah Jumat Anda sendiri? Unduh versi lengkap PDF/Word-nya:

Seri 4

Waspada Pencitraan

± 10 menit

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Kebenaran yang Asing Disambut dengan Amarah

"Kesabaran seseorang sering kali sebanding dengan kadar keikhlasannya." Ada satu fenomena yang berulang kali saya saksikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin asing sebuah kebenaran di telinga seseorang, semakin besar kemungkinan ia disambut bukan dengan rasa ingin tahu, tetapi dengan penolakan, bahkan kemarahan. Padahal, sesuatu yang belum pernah kita dengar tidak otomatis berarti salah. Ia hanya menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang persoalan itu belum sampai ke sana. Belum lama ini saya mengalami sebuah peristiwa yang menurut saya sangat menggambarkan fenomena tersebut. Sore itu saya melaksanakan shalat Ashar berjamaah di masjid lain. Ketika tiba di masjid tempat saya biasa shalat Magrib, beberapa jamaah menghampiri saya setelah salam. Mereka meminta penjelasan mengenai kejadian yang terjadi pada shalat Ashar. Mereka bercerita bahwa pada tahiyat akhir imam membaca doa setelah tasyahud agak panjang. Pada saat yang sama, salah seorang makmum ternyata memili...

Empat Pilar yang Menentukan Wajah Sebuah Desa

Setiap kali membicarakan kemajuan sebuah desa, pembicaraan sering berhenti di satu titik saja: siapa kepala desanya. Seolah baik-buruknya sebuah desa hanya ditentukan oleh satu orang di kursi tertinggi. Padahal, kalau kita amati desa yang benar-benar bergerak maju, hampir selalu ada empat unsur yang bekerja bersamaan, bukan satu unsur yang bekerja sendirian. Pertama, pemimpin yang ideal. Buku Desa terbitan Kementerian Desa PDTT menyebutkan ciri kepala desa yang baik: mendengar, mengayomi, tidak anti kritik, transparan, dan adil. Ini bukan daftar harapan yang berlebihan, ini kebutuhan dasar. Tanpa lima sifat ini, sebaik apa pun program yang dijalankan, kepercayaan masyarakat akan terus goyah. Kedua, tokoh yang dewasa. Desa membutuhkan orang-orang yang berani mengkritik, tapi dengan cara yang santun, dan yang senang menasihati tanpa merasa lebih tinggi. Buku yang sama menyebut anggota BPD yang baik harus berani, jujur, objektif, tidak mudah diintervensi, dan memahami aturan. Sifat ini...

KHUTBAH JUM'AT SERI 1-LARANGAN FANATIK

Khutbah & Kajian · Seri 1 Ada satu sikap yang terasa seperti sedang membela kebenaran, padahal yang sesungguhnya sedang dibela hanyalah golongan sendiri — dan Nabi ﷺ menegaskan, penyerunya bukan bagian dari umat beliau. Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأُخُوَّةِ وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالتَّعَصُّبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan...