Langsung ke konten utama

KHUTBAH JUM'AT SERI 5: KEINSAFAN YANG SEMENTARA

Khutbah & Kajian · Seri 5

Ada yang menangis di samping jenazah, bersumpah akan berubah — lalu sebulan kemudian kembali seperti semula. Insaf semacam ini ternyata punya nama dalam Al-Qur'an: iman "di tepi".

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي يُقَلِّبُ الْقُلُوبَ وَالْأَبْصَارَ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Jamaah Jum'at rahimakumullah, pernahkah kita perhatikan, betapa mudahnya hati manusia menjadi lembut ketika ditimpa kesusahan? Saat sakit keras, saat kehilangan orang tercinta, saat kendaraan nyaris celaka di jalan — di titik itu lisan kita basah dengan istighfar, hati kita bersumpah akan berubah, shalat yang dulu bolong-bolong tiba-tiba terasa ringan untuk didirikan. Namun, jamaah sekalian, berapa lama keinsafan itu bertahan? Sering kali begitu kesulitan berlalu, begitu kesehatan pulih, kita pun kembali ke kebiasaan lama seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.

Iman yang Hanya Muncul Saat Susah

Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan watak ini dengan sangat tepat dalam firman-Nya:

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Dan apabila manusia ditimpa kesusahan, ia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan kesusahannya darinya, ia berlalu (kembali kepada kesesatannya), seakan-akan ia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) kesusahan yang menimpanya. Demikianlah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan."
(QS. Yunus: 12)

Menurut penafsiran Mujahid, ayat ini berbicara tentang tabiat umum manusia: ketika ditimpa musibah ia ingat Allah dan berdoa bersungguh-sungguh, namun begitu musibah diangkat ia kembali lalai seakan tidak pernah berdoa sama sekali. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa inilah sifat orang yang hanya ingat Allah ketika darurat, tetapi kembali kepada kelalaiannya saat keadaan lapang. Jamaah sekalian, inilah yang kita sebut sebagai iman musiman — muncul hanya ketika ada kebutuhan, lalu meredup begitu kebutuhan itu terpenuhi.

Ibadah "Di Tepi" — Iman yang Setengah Hati

Ada bentuk lain dari keinsafan yang rapuh ini, yang Allah gambarkan lebih tajam lagi dalam surah Al-Hajj:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di tepi (dengan iman yang tidak kokoh). Jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu. Tetapi jika ia ditimpa cobaan, berbaliklah ia ke belakang (murtad). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata."
(QS. Al-Hajj: 11)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang baru masuk Islam: jika ia mendapatkan kesehatan, rezeki, dan ketenangan, ia merasa ridha dengan Islam. Namun begitu ditimpa musibah — sakit, gagal panen, atau kehilangan anak — ia justru menganggap Islam sebagai sebab kesialannya, lalu berbalik. Sedangkan Qatadah menafsirkan "beribadah di tepi" sebagai iman setengah hati, yang belum mantap berpijak.

Jamaah rahimakumullah, dua ayat ini sesungguhnya berbicara dari dua arah yang berlawanan, namun bermuara pada penyakit hati yang sama: iman yang tidak istiqamah. Yang satu goyah ketika susah lalu lupa saat lapang, yang satu lagi goyah ketika diuji padahal sebelumnya tampak taat. Keduanya sama-sama bukan iman yang berakar, melainkan keinsafan sesaat yang menguap begitu keadaan berubah.

Amalan Dinilai dari Penutupnya

Mengapa keinsafan yang sementara ini begitu berbahaya, jamaah sekalian? Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sebuah kaidah besar tentang bagaimana Allah menilai perjalanan hidup seorang hamba:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
"Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya (akhirnya)."
(HR. Bukhari no. 6607, Muslim no. 112, dari Sahal bin Sa'd radhiyallahu 'anhu)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberi perumpamaan yang sangat mengena tentang hadits ini. Beliau berkata:

"Amalan itu ibarat bejana, penutupnya adalah yang menentukan isi dan kualitasnya."
(Ibnul Qayyim rahimahullah — al-Jawab al-Kafi)

Bayangkan, jamaah sekalian — sebaik apa pun isi sebuah bejana, jika penutupnya bocor atau kotor, seluruh isinya bisa rusak. Begitu pula amal seorang hamba: bertahun-tahun ia bisa tampak saleh, namun jika hidupnya ditutup dengan keburukan, catatan itulah yang menentukan. Sebaliknya, seseorang yang lama bergelimang dosa, jika Allah berikan hidayah di penghujung hidupnya, husnul khatimah itu pula yang menyelamatkannya.

Lebih dalam lagi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam — yang benar dan dibenarkan — mengabarkan kepada Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu tentang betapa tipisnya jarak antara husnul khatimah dan su'ul khatimah:

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
"Sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal sehasta saja, namun ketetapan takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka, hingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sehasta saja, namun ketetapan takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka ia pun masuk surga."
(HR. Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud hadits ini:

"Hadits ini adalah dorongan agar tidak tertipu dengan amal, serta tetap takut kepada Allah sampai ajal menjemput."
(Imam Nawawi rahimahullah — Syarh Shahih Muslim, 16/207)

Jamaah yang dirahmati Allah, hadits ini bukan untuk membuat kita putus asa dari amal saleh, dan bukan pula untuk membuat kita meremehkan dosa dengan berharap hidayah datang belakangan. Justru sebaliknya: hadits ini mengajarkan dua sikap sekaligus — tidak boleh sombong dengan amal yang sudah banyak, dan tidak boleh putus asa dari rahmat Allah sekalipun dosa telah menumpuk. Sebab amal yang tampak di permukaan bisa menipu — bisa jadi seseorang tampak saleh namun hatinya rusak sehingga akhirnya buruk, dan bisa jadi seseorang lama bergelimang dosa namun Allah beri hidayah tepat di penghujung hayatnya.

Maka, jamaah sekalian, marilah kita jujur bermuhasabah: apakah keinsafan yang pernah singgah di hati kita — setelah sakit, setelah kehilangan, setelah nyaris celaka — masih kita rawat hingga hari ini? Ataukah ia telah menguap begitu keadaan kembali normal, dan kita kembali menjadi orang yang beribadah "di tepi", hanya mengingat Allah ketika susah?

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah, yang keinsafannya bukan sekadar reaksi sesaat atas musibah, melainkan akar iman yang tumbuh dan bertahan hingga akhir hayat.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
— khatib duduk sejenak —

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

Doa-Doa

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ وَعَلَى طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْ إِيمَانَنَا مَوْسِمِيًّا يَحْضُرُ عِنْدَ الشِّدَّةِ وَيَغِيبُ عِنْدَ الرَّخَاءِ
"Ya Allah, Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu, dan janganlah Engkau jadikan iman kami musiman — hadir saat susah dan hilang saat lapang."
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِخَيْرٍ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ
"Ya Allah, tutuplah hidup kami dengan kebaikan, jadikanlah sebaik-baik amal kami adalah penutupnya, dan sebaik-baik hari kami adalah hari kami berjumpa dengan-Mu."
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Kebenaran yang Asing Disambut dengan Amarah

"Kesabaran seseorang sering kali sebanding dengan kadar keikhlasannya." Ada satu fenomena yang berulang kali saya saksikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin asing sebuah kebenaran di telinga seseorang, semakin besar kemungkinan ia disambut bukan dengan rasa ingin tahu, tetapi dengan penolakan, bahkan kemarahan. Padahal, sesuatu yang belum pernah kita dengar tidak otomatis berarti salah. Ia hanya menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang persoalan itu belum sampai ke sana. Belum lama ini saya mengalami sebuah peristiwa yang menurut saya sangat menggambarkan fenomena tersebut. Sore itu saya melaksanakan shalat Ashar berjamaah di masjid lain. Ketika tiba di masjid tempat saya biasa shalat Magrib, beberapa jamaah menghampiri saya setelah salam. Mereka meminta penjelasan mengenai kejadian yang terjadi pada shalat Ashar. Mereka bercerita bahwa pada tahiyat akhir imam membaca doa setelah tasyahud agak panjang. Pada saat yang sama, salah seorang makmum ternyata memili...

Empat Pilar yang Menentukan Wajah Sebuah Desa

Setiap kali membicarakan kemajuan sebuah desa, pembicaraan sering berhenti di satu titik saja: siapa kepala desanya. Seolah baik-buruknya sebuah desa hanya ditentukan oleh satu orang di kursi tertinggi. Padahal, kalau kita amati desa yang benar-benar bergerak maju, hampir selalu ada empat unsur yang bekerja bersamaan, bukan satu unsur yang bekerja sendirian. Pertama, pemimpin yang ideal. Buku Desa terbitan Kementerian Desa PDTT menyebutkan ciri kepala desa yang baik: mendengar, mengayomi, tidak anti kritik, transparan, dan adil. Ini bukan daftar harapan yang berlebihan, ini kebutuhan dasar. Tanpa lima sifat ini, sebaik apa pun program yang dijalankan, kepercayaan masyarakat akan terus goyah. Kedua, tokoh yang dewasa. Desa membutuhkan orang-orang yang berani mengkritik, tapi dengan cara yang santun, dan yang senang menasihati tanpa merasa lebih tinggi. Buku yang sama menyebut anggota BPD yang baik harus berani, jujur, objektif, tidak mudah diintervensi, dan memahami aturan. Sifat ini...

KHUTBAH JUM'AT SERI 1-LARANGAN FANATIK

Khutbah & Kajian · Seri 1 Ada satu sikap yang terasa seperti sedang membela kebenaran, padahal yang sesungguhnya sedang dibela hanyalah golongan sendiri — dan Nabi ﷺ menegaskan, penyerunya bukan bagian dari umat beliau. Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأُخُوَّةِ وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالتَّعَصُّبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan...