Syahadat yang kita ucapkan minimal sembilan kali sehari dalam tasyahud ternyata bukan sekadar kalimat pengakuan — ia menuntut empat konsekuensi nyata dalam keseharian kita.
Khutbah Pertama
Jamaah Jum'at hafidhakumullah, kita berada di bulan Rabiul Awal — bulan kelahiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, manusia teragung, pemimpin para Nabi dan Rasul. Maka sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah menghadirkan beliau ke muka bumi, memilihnya menjadi penutup para Nabi yang membawa risalah Islam untuk kita amalkan hingga akhir zaman.
Beriman kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam merupakan bagian dari rukun iman. Dan kita senantiasa membaca kesaksian kita atas kerasulan beliau pada syahadat yang minimal kita ucapkan sembilan kali dalam sehari semalam, sebagai bacaan shalat dalam tasyahud-tasyahud kita.
Karenanya, dalam kesempatan khutbah Jumat ini kita akan membahas empat konsekuensi iman kita kepada Rasulullah yang kita persaksikan dalam syahadat risalah.
Pertama: Tashdiquhu fima Akhbara — Membenarkan Apa yang Beliau Sampaikan
Yang pertama adalah membenarkan apa yang beliau sampaikan (تصديقه فيما اخبر). Berangkat dari keyakinan bahwa apa yang beliau sampaikan pasti benar karena semuanya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu adalah contoh terbaik dalam tashdiquhu fima akhbara. Sepulang Rasulullah dari Isra' Mi'raj, banyak yang tidak percaya dengan peristiwa penuh keajaiban tersebut. Bahkan sampai ada orang yang baru masuk Islam kemudian murtad karena tidak siap mendengar berita Isra' Mi'raj.
Ketika sebagian tokoh kafir Quraisy menyampaikannya kepada Abu Bakar — karena beliau belum bertemu Rasulullah di hari itu — Abu Bakar balik bertanya kepada mereka, "Apakah yang menyampaikannya adalah Rasulullah?" Begitu dijawab ya, Abu Bakar menegaskan sikapnya, "Jangankan berita seperti itu, yang lebih ajaib pun aku akan percaya jika Rasulullah yang menyampaikannya." Sejak saat itu, Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq. Selalu membenarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tanpa tapi, tanpa sedikit pun terbesit keraguan di hati.
Para sahabat juga merupakan teladan dalam tashdiquhu fima akhbara. Ketika Perang Ahzab, Madinah membuat strategi parit untuk menghalangi pasukan sekutu menyerang kota — hingga perang itu pun terkenal sebagai Perang Khandaq (parit). Sewaktu membuat parit, mereka dalam kondisi paceklik dan situasi yang sangat sulit. Dalam kondisi terdesak seperti itu, Rasulullah justru mengabarkan kemenangan dan penaklukan. Saat beliau diminta memecahkan batu besar yang para sahabat tidak mampu memecahkannya, beliau memukulnya sekuat tenaga hingga batu itu retak dan memercikkan api.
"Aku diberi kunci-kunci Syam. Kulihat istananya berwarna merah," sabda beliau saat melihat percikan api dari pukulan pertama. "Aku diberi kunci-kunci Persia. Kulihat istana Mada'in berwarna putih," kata beliau pada pukulan kedua. "Aku diberi kunci Yaman. Kulihat gerbang Sana'a," kata beliau pada pukulan ketiga.
Para sahabat meyakini kemenangan yang Rasulullah kabarkan itu, meskipun saat itu mereka seperti sedang di ujung tanduk. Dan benar, satu per satu kemenangan itu terbukti: kemenangan Perang Ahzab itu sendiri, lalu Syam takluk dan Damaskus kelak menjadi ibu kota Daulah Bani Umayyah, Persia tumbang di masa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu terutama pada Perang Qadisiyah, dan Yaman terbuka secara damai atas dakwah Mu'adz bin Jabal dan sahabat lain yang Rasulullah tugaskan ke sana.
Begitu pula dengan sabda Rasulullah terkait Konstantinopel, ibu kota Romawi sekaligus kota paling megapolitan saat itu:
Delapan ratus dua puluh lima tahun kemudian, sabda Rasulullah itu terbukti: Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel pada 29 Mei 1453 Masehi.
Kedua: Tha'atuhu fima Amara — Menaati Apa yang Beliau Perintahkan
Yang kedua adalah menaati apa yang beliau perintahkan (طاعته فيما امر). Ketaatan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini bersifat mutlak, sebab perintah Rasulullah senantiasa berasal dari perintah Allah.
Taat kepada Rasulullah merupakan ketaatan mutlak, sehingga pada ayat ini perintah "athi'u" diulang lagi. Berbeda dengan ketaatan kepada ulil amri yang tidak lagi mengulang athi'u, karena ketaatan kepada ulil amri haruslah dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya — jika ada perintah ulil amri yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka tidak wajib menaatinya.
Seluruh perintah Allah dalam Al-Qur'an, Rasulullah juga memerintahkannya. Selain itu, ada perintah dari Rasulullah yang tidak tertulis rinci dalam Al-Qur'an, karena salah satu fungsi hadits adalah menjelaskan dan merinci perintah dalam Al-Qur'an. Misalnya shalat — tata cara shalat yang detail tidak ada dalam Al-Qur'an, adanya dalam hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Ketiga: Ijtinabu ma Naha 'Anhu — Menjauhi Apa yang Beliau Larang
Yang ketiga adalah menjauhi apa yang beliau larang (إجتناب مانهى عنه). Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
Seluruh larangan Allah dalam Al-Qur'an, Rasulullah juga melarangnya. Maka, seluruh larangan Allah dan Rasul-Nya wajib kita usahakan untuk dijauhi seluruhnya — apalagi jika itu dosa besar seperti syirik, durhaka kepada orang tua, korupsi, berzina, judi, dan mabuk-mabukan. Imam Adz-Dzahabi bahkan menjelaskan tujuh puluh dosa besar dalam kitabnya Al-Kaba'ir.
Menariknya, banyak dosa besar yang dijelaskan para ulama tetapi di zaman kita justru dianggap sebagai dosa kecil, misalnya ghibah atau menggosip sesama muslim. Ada pula larangan yang bukan hanya dilarang untuk dilakukan, tetapi juga dilarang untuk didekati — misalnya zina, sebagaimana Allah firmankan:
Keempat: La Na'budallaha Illa bima Syara'a — Tidak Beribadah Kecuali dengan yang Disyariatkan
Yang keempat adalah kita tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan (لا نعبد الله إلا بما شرع), khususnya dalam ibadah mahdhah (ibadah ritual). Jangan sampai kita membuat-buat cara ibadah ritual yang baru, jangan sampai kita membuat bid'ah dalam masalah ibadah mahdhah, sebab ibadah dengan cara seperti itu tertolak.
Karenanya, dalam bab shalat Rasulullah memerintahkan kepada kita:
Dalam bab haji, Rasulullah mensabdakan:
Semoga dengan membenarkan apa yang beliau sampaikan, menaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan beribadah kepada Allah hanya dengan syariat yang beliau bawa, kelak kita semua mendapatkan syafaat beliau shallallahu 'alaihi wasallam.
Khutbah Kedua
Jamaah Jum'at hafidhakumullah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat penyayang kepada orang-orang beriman. Karenanya beliau menyimpan doa pamungkas sebagai syafaat di akhirat kelak. Ketika orang-orang kepanasan, kehausan, dan ketakutan di Padang Mahsyar, Rasulullah akan memanggil umatnya untuk diberi minum di telaga kautsar beliau — dan orang yang telah minum dari telaga itu takkan kehausan lagi selama-lamanya.
Di saat semua manusia bingung berharap pertolongan, mereka mendatangi sejumlah Nabi mulai Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, hingga Isa — semuanya tak ada yang bisa memberikan syafaat. Akhirnya mereka semua datang kepada Nabi Muhammad, dan beliau pun memberikan syafaat kepada umatnya.
Doa-Doa
Diadaptasi dari tulisan Muchlisin BK, "Khutbah Jumat Maulid Nabi: Konsekuensi Iman kepada Rasulullah", bersamadakwah.net
Komentar
Posting Komentar