Langsung ke konten utama

KHUTBAH JUM'AT SERI 6: EMPAT KONSEKUENSI IMAN KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM

Khutbah & Kajian · Seri 6

Syahadat yang kita ucapkan minimal sembilan kali sehari dalam tasyahud ternyata bukan sekadar kalimat pengakuan — ia menuntut empat konsekuensi nyata dalam keseharian kita.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Jum'at hafidhakumullah, kita berada di bulan Rabiul Awal — bulan kelahiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, manusia teragung, pemimpin para Nabi dan Rasul. Maka sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah menghadirkan beliau ke muka bumi, memilihnya menjadi penutup para Nabi yang membawa risalah Islam untuk kita amalkan hingga akhir zaman.

Beriman kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam merupakan bagian dari rukun iman. Dan kita senantiasa membaca kesaksian kita atas kerasulan beliau pada syahadat yang minimal kita ucapkan sembilan kali dalam sehari semalam, sebagai bacaan shalat dalam tasyahud-tasyahud kita.

Karenanya, dalam kesempatan khutbah Jumat ini kita akan membahas empat konsekuensi iman kita kepada Rasulullah yang kita persaksikan dalam syahadat risalah.

Pertama: Tashdiquhu fima Akhbara — Membenarkan Apa yang Beliau Sampaikan

Yang pertama adalah membenarkan apa yang beliau sampaikan (تصديقه فيما اخبر). Berangkat dari keyakinan bahwa apa yang beliau sampaikan pasti benar karena semuanya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."
(QS. An-Najm: 3-4)

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu adalah contoh terbaik dalam tashdiquhu fima akhbara. Sepulang Rasulullah dari Isra' Mi'raj, banyak yang tidak percaya dengan peristiwa penuh keajaiban tersebut. Bahkan sampai ada orang yang baru masuk Islam kemudian murtad karena tidak siap mendengar berita Isra' Mi'raj.

Ketika sebagian tokoh kafir Quraisy menyampaikannya kepada Abu Bakar — karena beliau belum bertemu Rasulullah di hari itu — Abu Bakar balik bertanya kepada mereka, "Apakah yang menyampaikannya adalah Rasulullah?" Begitu dijawab ya, Abu Bakar menegaskan sikapnya, "Jangankan berita seperti itu, yang lebih ajaib pun aku akan percaya jika Rasulullah yang menyampaikannya." Sejak saat itu, Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq. Selalu membenarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tanpa tapi, tanpa sedikit pun terbesit keraguan di hati.

Para sahabat juga merupakan teladan dalam tashdiquhu fima akhbara. Ketika Perang Ahzab, Madinah membuat strategi parit untuk menghalangi pasukan sekutu menyerang kota — hingga perang itu pun terkenal sebagai Perang Khandaq (parit). Sewaktu membuat parit, mereka dalam kondisi paceklik dan situasi yang sangat sulit. Dalam kondisi terdesak seperti itu, Rasulullah justru mengabarkan kemenangan dan penaklukan. Saat beliau diminta memecahkan batu besar yang para sahabat tidak mampu memecahkannya, beliau memukulnya sekuat tenaga hingga batu itu retak dan memercikkan api.

"Aku diberi kunci-kunci Syam. Kulihat istananya berwarna merah," sabda beliau saat melihat percikan api dari pukulan pertama. "Aku diberi kunci-kunci Persia. Kulihat istana Mada'in berwarna putih," kata beliau pada pukulan kedua. "Aku diberi kunci Yaman. Kulihat gerbang Sana'a," kata beliau pada pukulan ketiga.

Para sahabat meyakini kemenangan yang Rasulullah kabarkan itu, meskipun saat itu mereka seperti sedang di ujung tanduk. Dan benar, satu per satu kemenangan itu terbukti: kemenangan Perang Ahzab itu sendiri, lalu Syam takluk dan Damaskus kelak menjadi ibu kota Daulah Bani Umayyah, Persia tumbang di masa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu terutama pada Perang Qadisiyah, dan Yaman terbuka secara damai atas dakwah Mu'adz bin Jabal dan sahabat lain yang Rasulullah tugaskan ke sana.

Begitu pula dengan sabda Rasulullah terkait Konstantinopel, ibu kota Romawi sekaligus kota paling megapolitan saat itu:

لَتُفْتَحَنَّ القُسطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ اْلأَمِيْرُ أَمِيْرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْش
"Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang menaklukkannya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut."

Delapan ratus dua puluh lima tahun kemudian, sabda Rasulullah itu terbukti: Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel pada 29 Mei 1453 Masehi.

Kedua: Tha'atuhu fima Amara — Menaati Apa yang Beliau Perintahkan

Yang kedua adalah menaati apa yang beliau perintahkan (طاعته فيما امر). Ketaatan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini bersifat mutlak, sebab perintah Rasulullah senantiasa berasal dari perintah Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
(QS. An-Nisa': 59)

Taat kepada Rasulullah merupakan ketaatan mutlak, sehingga pada ayat ini perintah "athi'u" diulang lagi. Berbeda dengan ketaatan kepada ulil amri yang tidak lagi mengulang athi'u, karena ketaatan kepada ulil amri haruslah dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya — jika ada perintah ulil amri yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka tidak wajib menaatinya.

Seluruh perintah Allah dalam Al-Qur'an, Rasulullah juga memerintahkannya. Selain itu, ada perintah dari Rasulullah yang tidak tertulis rinci dalam Al-Qur'an, karena salah satu fungsi hadits adalah menjelaskan dan merinci perintah dalam Al-Qur'an. Misalnya shalat — tata cara shalat yang detail tidak ada dalam Al-Qur'an, adanya dalam hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Ketiga: Ijtinabu ma Naha 'Anhu — Menjauhi Apa yang Beliau Larang

Yang ketiga adalah menjauhi apa yang beliau larang (إجتناب مانهى عنه). Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah."
(QS. Al-Hasyr: 7)

Seluruh larangan Allah dalam Al-Qur'an, Rasulullah juga melarangnya. Maka, seluruh larangan Allah dan Rasul-Nya wajib kita usahakan untuk dijauhi seluruhnya — apalagi jika itu dosa besar seperti syirik, durhaka kepada orang tua, korupsi, berzina, judi, dan mabuk-mabukan. Imam Adz-Dzahabi bahkan menjelaskan tujuh puluh dosa besar dalam kitabnya Al-Kaba'ir.

Menariknya, banyak dosa besar yang dijelaskan para ulama tetapi di zaman kita justru dianggap sebagai dosa kecil, misalnya ghibah atau menggosip sesama muslim. Ada pula larangan yang bukan hanya dilarang untuk dilakukan, tetapi juga dilarang untuk didekati — misalnya zina, sebagaimana Allah firmankan:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk."
(QS. Al-Isra': 32)

Keempat: La Na'budallaha Illa bima Syara'a — Tidak Beribadah Kecuali dengan yang Disyariatkan

Yang keempat adalah kita tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan (لا نعبد الله إلا بما شرع), khususnya dalam ibadah mahdhah (ibadah ritual). Jangan sampai kita membuat-buat cara ibadah ritual yang baru, jangan sampai kita membuat bid'ah dalam masalah ibadah mahdhah, sebab ibadah dengan cara seperti itu tertolak.

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak."
(HR. Bukhari dan Muslim)
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak."
(HR. Muslim)

Karenanya, dalam bab shalat Rasulullah memerintahkan kepada kita:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat."
(HR. Bukhari)

Dalam bab haji, Rasulullah mensabdakan:

خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ
"Ambillah dariku manasik-manasik kalian."
(HR. Muslim)

Semoga dengan membenarkan apa yang beliau sampaikan, menaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan beribadah kepada Allah hanya dengan syariat yang beliau bawa, kelak kita semua mendapatkan syafaat beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
— khatib duduk sejenak —

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Jamaah Jum'at hafidhakumullah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat penyayang kepada orang-orang beriman. Karenanya beliau menyimpan doa pamungkas sebagai syafaat di akhirat kelak. Ketika orang-orang kepanasan, kehausan, dan ketakutan di Padang Mahsyar, Rasulullah akan memanggil umatnya untuk diberi minum di telaga kautsar beliau — dan orang yang telah minum dari telaga itu takkan kehausan lagi selama-lamanya.

Di saat semua manusia bingung berharap pertolongan, mereka mendatangi sejumlah Nabi mulai Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, hingga Isa — semuanya tak ada yang bisa memberikan syafaat. Akhirnya mereka semua datang kepada Nabi Muhammad, dan beliau pun memberikan syafaat kepada umatnya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Doa-Doa

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Diadaptasi dari tulisan Muchlisin BK, "Khutbah Jumat Maulid Nabi: Konsekuensi Iman kepada Rasulullah", bersamadakwah.net

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Kebenaran yang Asing Disambut dengan Amarah

"Kesabaran seseorang sering kali sebanding dengan kadar keikhlasannya." Ada satu fenomena yang berulang kali saya saksikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin asing sebuah kebenaran di telinga seseorang, semakin besar kemungkinan ia disambut bukan dengan rasa ingin tahu, tetapi dengan penolakan, bahkan kemarahan. Padahal, sesuatu yang belum pernah kita dengar tidak otomatis berarti salah. Ia hanya menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang persoalan itu belum sampai ke sana. Belum lama ini saya mengalami sebuah peristiwa yang menurut saya sangat menggambarkan fenomena tersebut. Sore itu saya melaksanakan shalat Ashar berjamaah di masjid lain. Ketika tiba di masjid tempat saya biasa shalat Magrib, beberapa jamaah menghampiri saya setelah salam. Mereka meminta penjelasan mengenai kejadian yang terjadi pada shalat Ashar. Mereka bercerita bahwa pada tahiyat akhir imam membaca doa setelah tasyahud agak panjang. Pada saat yang sama, salah seorang makmum ternyata memili...

Empat Pilar yang Menentukan Wajah Sebuah Desa

Setiap kali membicarakan kemajuan sebuah desa, pembicaraan sering berhenti di satu titik saja: siapa kepala desanya. Seolah baik-buruknya sebuah desa hanya ditentukan oleh satu orang di kursi tertinggi. Padahal, kalau kita amati desa yang benar-benar bergerak maju, hampir selalu ada empat unsur yang bekerja bersamaan, bukan satu unsur yang bekerja sendirian. Pertama, pemimpin yang ideal. Buku Desa terbitan Kementerian Desa PDTT menyebutkan ciri kepala desa yang baik: mendengar, mengayomi, tidak anti kritik, transparan, dan adil. Ini bukan daftar harapan yang berlebihan, ini kebutuhan dasar. Tanpa lima sifat ini, sebaik apa pun program yang dijalankan, kepercayaan masyarakat akan terus goyah. Kedua, tokoh yang dewasa. Desa membutuhkan orang-orang yang berani mengkritik, tapi dengan cara yang santun, dan yang senang menasihati tanpa merasa lebih tinggi. Buku yang sama menyebut anggota BPD yang baik harus berani, jujur, objektif, tidak mudah diintervensi, dan memahami aturan. Sifat ini...

KHUTBAH JUM'AT SERI 1-LARANGAN FANATIK

Khutbah & Kajian · Seri 1 Ada satu sikap yang terasa seperti sedang membela kebenaran, padahal yang sesungguhnya sedang dibela hanyalah golongan sendiri — dan Nabi ﷺ menegaskan, penyerunya bukan bagian dari umat beliau. Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأُخُوَّةِ وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالتَّعَصُّبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ Jamaah Jum'at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan...